Minggu, 20 Maret 2011

Cinta, Sejarah dan Politik lewat ”Tatapan Mata Marinir”

Cinta, Sejarah dan Politik lewat ”Tatapan Mata Marinir”
Oleh: Sihar Ramses Simatupang *)
Peluncuran dan Diskusi Buku 15 Januari 2005

Rahmat Ali, di pertengahan bulan awal tahun 2005 ini menerbitkan karyanya yang berjudul "Pacar Cantik di Kapal Selamku". Novel tebal, detail mengungkapkan tiap persoalan seorang pelaut mulai dari kapalnya, perihal cara mengemudikan, arah mata angin, nama 13 republik di Rusia: Estonia, Latvia, Lithuania, Byelorussia, Ukraina, Maldovia, Armenia, Georgia, Azerbaiyan, Turkmen, Uzbek, Tajik dan Kirghiz. Novel memperlihatkan kefasihan pengarang pada dunia si tokoh utama, kesabaran si pengarang dalam meniti kisah lewat pandangan si tokoh utama, dengan detail informasi, latar dan alur.
Kisah dalam novel ini, setelah bab Pembuka mengalir dengan pola flashback, tokoh utama berkisah tentang masa lalu saat menjadi marinir (dulu KKO -- (Kesatuan Korps Angkatan Laut) muda: dua gadis yang dikenalnya dengan dekat, gadis Rusia dan gadis Indonesia. Dari situ, pada bab kedua, waktu melompat ke masa lalu, cinta kedua gadis kemudian menjadi pemantik utama untuk bercerita tentang masa lalunya saat menjadi pelaut muda lengkap dengan pengembaraan ke setup negeri termasuk di Rusia. Cinta marinir di kota Wladiwostok (dimana di akhir cerita, kisah kembali ke alur maju saat si tokoh utama tua dan hidup di Indonesia).
Lewat kacamata pelaut muda bernama Darmadi ini — biasa dipanggil emaknya di kampung "Mad", tapi dipanggil di Rusia menjadi "Madov" — Rahmat Ali menempatkan karyanya lewat persoalan si tokoh utama Darmadi alias Madov, yang bekerj a sebagai anak buah kapal, mencintai seorang perempuan Rusia bernama Martina Debruska. Darmadi, lewat pengalaman sebagai marinir/KKO KRI "Nanusa" berjenis kapal pengangkut memiliki mitraliyur penangkis udara, lalu dikirim bernama kawan se¬korpsnya ke Wladiwostok (Pusat Pendidikan Kapal Selam sekaligus pangkalan AL Uni Soviet Rusia, terbesar di kawasan Timur Jauh).
Yang nampak dari pengalaman si Madov adalah pelajaran yang dia terima di Wladiwostok, guru cantik Shirley Ivanova yang dikagumi kawan-kawannya, Mayor Garin yang galak, cinta pada Martina Debruska, dialog dan pergaulan KKO, perjalanan menyenangkan dari Wladiwostok ke Moskow — semua dirasanya kontras dengan kisah sedih keluarganya di Alas Roban — wilayah pantai utara Pulau Jawa.
Dengan kisah yang lambat tapi detail itu, Rahmat Ali, bebas menceritakan lewat tokoh utamanya yang berceloteh tentang nostalgia cinta anak muda pelaut dengan gadis Rusia, soal kekasihnya di Indonesia yang akhirnya dinikahi lelaki lain karena tak kunjung jelas soal hubungan mereka, tentang "plonco" dari instruktur, sindiran kawannya saat dia menjalin cinta dengan Martina, kemudian berpisah dan dijodohkan dengan Ningsih .
Inilah laju pengisahan Rahmat Ali yang menyorot setiap latar atau menyorot setiap persoalan itu. Mengingatkan kita pada "Cannery Row" karya John Steinbeck yang berkisah detail tentang citraaan penglihatan, citraan pendengaran :
Aku bisa menghayati tugas-tugas bapak. Dengan dibantu kernetnya Kasdi dia mengangkut beras ratusan karung penuh dari Madiun ke Surabaya. Pernah juga langsung bawa rokok berpeti-peti dari pabriknya di Malang. Pulangnya ada bawaan barang-barang elektronik untuk didrop di Surabaya. Sampai rumah jam tiga dinihari. Truk bapak biasanya diparkir di ujung jalanan depan. Kasdi memeriksa mesin. Dia mengisi air radiator, nambah oli melalui lubangnya di mesin. Habis itu mencuci trek. Dia seperti bapak, tidak kenal capek. (Hal. 49)
Resiko paling sulit dilalui dalam detailitas pengisahan si pengarang yang "tak melupakan sebutir kancing pun di dalam saku celananya", adalah kesabaran si pembaca meniti pengisahan karya yang lengkap tiap latar, tiap persoalan, atau bahkan citraan penglihatan dan pendengaran lewat si tokoh utama.
Referensi si pengarang yang luas di dunia kelautan dan dunia Marinir/KKO, sangat memungkinkan segala informasi tertulis lengkap di dalamnya. Hanya, referensi yang tertuang selengkapnya dan begitu fasih pun, dapat juga menjadi bumerang – atau kelebihan – di dalam sebuah karya sastra.
Teringat pada karya seorang novelis Ani Sekarningsih, dimana dalam novel "Memburu Kalacakra" (2004) kartu tarot terlihat dominan dalam karyanya dan (bagi saya) terasa sangat mengganggu pengisahan, persoalan Rahmat Ali di dalam novelnya PCDK ini juga berupa ketidaksabarannya dalam menahan berbagai informasi, yang justru dapat menjadi kerikil penghalang laju kisah dalam karyanya.
Detailitas ini sebenarnya tidak terlihat menggurui pada beberapa cerpennya (yang kebetulan saya baca baru-baru ini), detailitas pada cerpennya kelihatan adalah detailitas yang universal tentang latar si tokoh, latar peristiwa, dimana detailitas tidak berubah menjadi "data tertulis" tentang kapal selam, ukurannya, hingga nomor-nomor kapal yang bisa sampai tiga paragrap pengisahan ini membuat "nikmatnya" membaca karya Rahmat Ali jadi terkurangi karena hambatan data yang terlalu panjang itu. Di dalam cerpennya, Rahmat Ali bisa lebih hemat dalam pemaparan yang "menggurui" untuk menjelaskan peristiwa.
Di luar hal ini, terlebih dahulu saya katakan bahwa saya menyukai sebuah sejarah besar di dalam kisah. Rahmat Ali, punya kekuatan untuk sebuah sejarah besar, apalagi bila dia mau menekan semua informasi tekstualnya yang mendesak-desak, untuk dibuat jadi bahasa yang cair dan universal. Kekuatan generasi lalu memang berupa sejarah dan pengalaman, yang membuat detailitas menjadi kaya namun beresiko terpatah dalam pembacaan karena informasi yang kelewat padat dan menggurui. Hal yang berbeda pada generasi setelahnya yang justru penguatan adalah pada teknik dan bahasa namun kurang memperhitungkan detailitas.
Tentu, detailitas semacam itu bisa dinikmati di dalam tiap paragraf atau tiap bab, bila si pembaca mendapatkan "upah" bangunan konflik yang terbangun baik dalam klimaks, atau pun anti klimaks. Konflik, yang sebenarnya dapat diperlihatkan (misalnya, ketika si Darmadi ditinggal nikah pacarnya Sri saat pemuda ini mendapatkan pelatihan di Rusia, tertangkapnya Martina Debruska karena dituduh berkhianat saat Darmadi "dipanggil" Bung Karno bersama Marinir lainnya) tak dijadikan konflik bathin bagi si Madov atau pun konflik antara si Madov dengan tokoh lainnya.
Bahkan, terhadap perjodohan pun, si Darmadi alias Madov itu menerima begitu saja (ini tentu saja berbeda dengan reaksi anak muda "jaman sekarang" bila dihadapkan pada soal perjodohan.). Seorang pelaut yang punya pengalaman, kebebasan, bergesekan dengan kultur asing – berdansa, keluar malam dan minum sloki wine misalnya – adalah aneh bila dia tak berdaya saat dipanggil ibunya untuk menjadi "seorang Siti Nurbaya dalam fiksi" atau Amir Hamzah dalam kehidupan nyata. Bisa jadi, inilah sikap yang masih berkait dengan generasi si pengarang, terasa paralel dengan sikap tokoh di novelnya.
Barangkali "upah" yang akan dihadiahkan pada pembaca adalah "energi bahasa". Pola penceritaan Rahmat Ali di dalam kisahnya tak mengalir ke depan, waktu berjalan tak linier. Dalam sebuah pengisahan tentang bentuk penggemblengan fisik bagi pelaut Madov misalnya, Rahmat Ali tiba-tiba bercerita tentang masa kecil si Madov saat berenang di Sungai Metro dan khawatir "burungnya" digigit bulus (paragraph , hal. 32), atau saat mendengar permainan piano kemudian mengingat kenangan saat menyaksikan pemain siter keliling di desanya (hal. 56) dan saat kapal selam bersandar di Teluk Peleng, Kepulauan Banggai malah teringat adiknya Rasid saat mengganggu para penjaga tebu dan mengusik sarang burung. Hal yang dalam terjadi tiap bab ini bisa saja berresiko mengganggu lancarnya kenikmatan imajinasi si pembaca tentang kisah "si Madov -pelaut" yang dikirim di Rusia.

Realisme di Dalam PCDKS
Membaca karya seorang pengarang dalam novelnya, terkadang tergelitik untuk menelusuri proses kreatif kepenulisan pengarangnya, terutama masa lalunya. Sama seperti karya Martin Aleida, Hanna Rambe, nama Rahmat Ali juga tak asing pada masa 1970-an. Cerpennya pernah termuat di Horison pada masa itu. Menulis sejak 1958, sajaknya pernah dimuat di koran "Trompet Masjarakat" yang diasuh Suprijadi Tomodihardjo pada tahun 1959.
Menarik juga menyitir pendapat "tokoh sastra realis" di Indonesia, Pramoedya Ananta Toer, khusus untuk pernyataannya : "Yang saya suka adalah Steinbeck dan Gorki, yang tak saya suka Ernest Hemingway, karena dia selalu mempermainkan perasaan..."
Realisme di dalam seni tak melulu hanya membongkar persoalan sejarah suatu masyarakat, atau pola mimetik alias meniru kenyataan, karena bila begitu, persoalan sebuah karya sastra akan selesai karena tergantikan oleh tulisan di dalam berita, esai atau bahkan kenyataan itu sendiri. Karya sastra tak berarti hanya sebuah pembocoran biografi belaka. Realisme selesai pada taraf kenyataan begitu saja. Bahkan dalam konteks ideologi mengutip pandangan Frederic Engels tentang realisme sosialis yang menjalar ke seluruh dunia dihembus oleh kondisi politik di masa itu: bahwa sekali pun membawa misi perjuangan rakyat proletar, karya sastra atau karya seni harus tetap estetik dan indah.
Realisme itu apa adanya. Pernyataan ini terlalu singkat dan teramat sederhana untuk mendekati pemahaman tentang realisme. Unsur realisme ideologic di atas, jelas (sangat) berbeda dengan estetika realis yang digunakan dalam PCDKS-nya Rahmat Ali, yang lebih mengarah pada pemahaman teknik berbahasa atau berkisah. Tak beda dengan Umar Kayam, realisme Gerson Poyk (yang sempat ikut dalam "humanisme universal", sebuah label dari "ideologi yang tak berideologi", sebagai sikap humanisme atas estetika teks, art for art). Jadi, novel Rahmat Ali ini jelas tidak membedah sebuah fenomena dan gejala sosial dengan parameter yang tegas berupa perjuangan kelas di dalam. teksnya. Mulai dari pacar Madov yang menikah dengan orang lain bukan karena perbedaan tingkat kelas sosial tapi karena mereka sudah berjauhan, perpisahan Madov dengan Martina semata¬mata karena dipanggil pulang oleh Bung Karno, tawaran perjodohan yang diterima begitu saja.
Pada estetika realis di karya Rahmat Ali, atau di novel PCDKS ini keindahan tak ditempatkan dengan simbolik, tak metaforis, multi makna atau gaya bahasa yang berlebihan. Mendasarkan teks pada bangunan peristiwa yang logis, berlatar kejelasan tempat, sejarah individu dan masyarakatnya, karakter tokoh berbanding paralel dengan kenyataan diluar teks, juga logika kisah yang sejalan dengan logika di luar karya sastra.
Realisme yang diangkatnya bisa jadi sama dengan cara dengan beberapa nama penulis seperti yang tersebut di atas, Hamsad Rangkuti yang mengangkat fenomena sosial di perkotaan, Umar Kayam dengan realitas kebudayaan Jawa (misalnya "Para Priyayi") atau Gerson Poyk dalam kenangan-kenangan nyata di masa kecilnya di Pulau Rote -- bisa juga Ahmad Tohari misalnya. Penulis Rahmat Ali, yang mantan Marinir KKO ini, punya segudang pengalaman tentang laut, kapal selam, negeri di Rusia, pengalaman suka-duka sebagai marinir. Sejalan dengan biografinya, kisah si marinir Madov memang jadi rinci dan lengkap seperti kisah kehidupan pelaut/KKO/Marinir di dunia nyata.
Estetika realis di dalam Rahmat Ali tidak membiarkan suasana pengisahan jadi mendayu-dayu dan dimainkan oleh perasaan. Dalam PCDKS bacalah bagaimana tenang dan realistisnya si pengarang saat mengakhiri kisah si Madov saat mendengar dari Rusia bahwa kekasihnya Sri menikah dengan orang lain– sebelum kenal Martina dan Ningsih: Karena tidak ada kelegasan apa-apa maka aku dianggap hanya sahabat baik saja. Sri tidak bisa berbuat lain kecuali minta maaf berkali-kali di suratnya. Ya kumaafkanlah. Selamat berbahagia, Sri! (hal.27, paragraf 1)
... kalau aku baru saja putus cinta. Ditinggal kawin oleh pacarnya. Yang dilapori terbahak-bahak. Kebetulan saat itu Jum'at sore. Besoknya, Sabtu sore, saat para instruktur secara bergiliran kumpul-kumpul inenikmati malam panjang di ruinah salah seorang bintara, aku dan kawan-kawan sekelas diundang... (hal. 27 paragraf 2-3)
Karya novelnya kali ini setidaknya mendekati sejarah hidup si pengarang ketimbang "sejarah kelewat lampau" di novelnya yang lain yang bersandarkan pada legenda, antara lain Fatahillah, Pahlawan Kota Jakarta (1982), Para Pengawal Sultan Babullah (1983), Ratu Kalinyamat (1985), Cerita Rakyat Betawi I & II (1993), Nyai Dasima (2000). Atau bahkan karya fiksi ilmiahnya yang berj udul Narapidana Antar Galaksi (2002).
Realisme yang diangkatnya bisa jadi sama dengan cara Hamsad Rangkuti mengangkat fenomena sosial di perkotaan, Umar Kayam dengan realitas kebudayaan Jawa (misalnya "Para Priyayi") atau Gerson Poyk dalam kenangan-kenangan nyata di masa kecilnya di Pulau Rote. Penulis yang mantan Marinir KKO ini, punya segudang pengalaman tentang laut, kapal selam, negeri di Rusia, pengalaman suka-duka sebagai marinir. Sejalan dengan biografinya, kisah si marinir Madov memang jadi rinci dan lengkap seperti kisah kehidupan pelaut/KKO/Marinir yang hafal betul dua puluh nama kapal -- disebutkan Rahmat Ali nama-nama kapal di novel ini yang berkaitan dengan karakter wayang (hal. 120-12 1), beragam jenisnya hingga derajat posisi kapal.
Di novel ini juga diselipkan kisahnya sebagai marinir saat satu korpsnya ditarik oleh Presiden Soekarno dari Rusia, pembebasan Irian Jaya lewat Trikora, Madov yang membela calon mertuan yang dituduh anggota partai terlarang, Madov yang sempat ditahan namun tak lama karma dia dipandang "bersih". Terlihat juga sikap seorang marinir (angkatan ketentaraan yang pada dua masa, Soekarno dan Soeharto tak mendapatkan tempat di sentral politik), dimana Madov juga terlihat menghindar untuk sebuah paradigms politik, baik dari bicara, sikap dan pikirannya.
Di novel PCDKS, semua latar sejarah memang terlihat mengimbangi "samudera kisah pribadi"-nya Madov si marinir. Si tokoh Madov "sibuk" dengan kisahnya sendiri: kesibukan hidup sebagai pelaut, nostalgia cinta, negeri asing dan kerinduan pada keluarga.
Dua pertanyaan yang menjawab kaitan ini adalah lebih penting manakah, kisah si pelaut atau sejarah kapal selamnya? Pelaut adalah kisah pribadinya, sedangkan kapal selam akan mengaitkannya pada sejarah kemariniran, sejarah kebangsaan dan sejarah Pasopati.
Tekanan subject matter yang dibawa oleh Rahmat Ali pada novelnya ini tentu tak paralel dengan pikiran si Madov. Tapi tentu saja, ada sesuatu yang diinginkan si pengarang ketika "rela" menyentuh permukaan masa lalunya sebagai Marinir KKO, lewat karya novelnya. Lewat penuturan si Madov, pada paparan bab penutup (Bab VII), hal yang semula menjadi "aksesoris novel ini"justru diungkapkan seakan menjadi tekanan yang penting dan perlu dicetak tebal. Sebuah tugu dari sejarah perjuangan, bernama kapal selam "Pasopati": nama besar yang kini "terbaring" di sebelah Delta Plasa Surabaya.
Nilai kapal yang digunakan untuk kisah perploncoan si Madov muda, percintaannya dengan Martina Debruska dan coretan dua nama gadis di dinding ini, malahan disikapi si penulisnya dengan teramat jelas. Lewat tuturan Madov si mantan pelaut: Kapal selam-kapal selam lain yang beberapa di antaranya pernah juga pada dinding afanya kutempeli gambar-gambar sosok Martina serta Ningsih, kini tidak ada lagi. Biarlah kalau takdirnya musnah dan tinggal kenangan. Yang masih bertahan, ya kapalselamku in:. "Pasopati ". dangan dilupakan, dulu berjasa besar selama zaman TRIKORA dalam rangka merebut kembali Irian Barat serta DWIKORA saat-saat menjalankan tugas berkonfrontasi di perairan perbatasan Kaltim serta Kepulauan Riau sana.Sekarang aku (kerja) di museum, lumayanlah tenang damai menjadi juru penerang terutama bagi anak-anak sekolah, mahasiswa dan generasi muda serta masyarakat umum. (dsl) (bal. 278).
Dalam jalinan estetika sebuah karya realis pun, memang ada yang tetap tak bisa tersentuh, sebuah jalinan benang halus yang terkait antara pengarang dan karyanya: imajinasi yang tak tersentuh dengan logika atau keampuhan seratus analisis sekali pun, manakah yang ingin dibawa Rahmat Ali pada tokoh Madov: nostalgia masa lalu pribadinya atau kebesaran sejarah kapal Pasopati dalam sejarah Trikora.

PCDKS dan "Sejarah Masyarakat" yang Bergerak
"Daripada tanggung-tanggung", saya mengambil "jalan pintas" strukturalisme genetic Lucien Goldman memang menarik dimana ada kaitan erat antara karya kreatif dengan konteks zaman. Dalam teori Goldman memang menarik dengan pandangannya bahwa karya sastra adalah struktur yang dinamis dari basil sejarah kehidupan yang terus berlangsung. Tema suatu karya pada suatu masa akan berbeda pada masanya yang lain. Ada world view, vision du monde, yang mempertemukan dinamika tema teks terhadap masyarakat. Ada pengaruh rumit antara teks karya "Pacar Cantik di Karal Selamku (PCDKS), dengan sejarah dan kondisi sosial masyarakatnya.
Menarik juga melihat bahwa ada sejarah kondisi KKO, pada masa itu, yang menjadi elemen vital dari pertahanan Indonesia sebagai negara maritim dan bahari. Posisi yang dimiliki oleh Madov di dalam kesatuan KKO ini, sangat mempengaruhi salah satu propinsi Indonesia bahkan dalam menghadapi negara lain, dimana posisi Indonesia pada masa Soekarno sangat peka dalam artian politik bahkan ideology dari negara-negara besar pada masa itu, mulai dari pengaruh Amerika dengan pengaruh liberalisme¬kolonialisme dan imperialisme, juga pengaruh Rusia dan China. Angkatan Maritim ini – pasca pemanggilan Bung Karno pada korpnya si Darmadi alias Madov – merupakan pukulan telak ketika akhirnya Madov meninggalkan kekasihnya.
Sejarah telah berubah, sebagai seorang KKO, dia harus menerima sejarah yang berubah. Seorang KKO, marinir, Angkatan yang hanya melihat permainan kekuasaan politik Angkatan Darat. Bahkan, saat kembali pun, orangtua gadis jodoh dari ibunya – yang kemudian menjadi pengganti Martina pun -- dicurigai terlibat. Madov membela. Madov malah sempat ditahan, hingga komandannya membebaskannya dan dia memutuskan menikah dengan Ningsih.
Setelah mengarungi perjalanan hidup di dunia kemariniran, si Madov akhirnya menjadi seorang staff museum, seorang yang kemudian lebih aktif mengajar para siswa yang berkunjung ke museum. Tempat yang tenang (walau tetap saja ada struktur di dalam tiap lembaga apa pun), namun lebih berupa "peristirahatan" yang jauh dari tongkat komando, jauh juga dari intrik politik dan sistem strategi yang harus dibaca oleh seorang KKO berpangkat perwira, bintara atau bahkan tamtama sekali pun.
Kondisi ini bisa jadi tetap terjadi hingga sekarang. Kekuatan marinir adalah kekuatan yang seharusnya ditekankan di dalam sebuah negara Maritim. Kebanggaan Pasopati adalah kebanggaan menjaga Nusantara yang sebagian bestir terdiri dari lautan. Mungkin, karena saya seorang awam, yang tabu tingkatan, apalagi kondisi di dalam stuktur militer). Namun, seperti juga seorang purnawirawan marinir, atau Madov, simbolisme "kekuatan sejarah bahari" tak ubahnya semacam kapal Pasopati yang dimuseumkan di samping Kali Mas. Tegar dalam penglihatan, dan kenangan akan sejarah.
Pergeseran sosial dari seorang"pahlawan" Madov pada masanya, membela, nasionalisme yang dipahami dengan struktur komando untuk membela "tanah air", menyisakan sejarah yang tak lekang di dalam diri Madov. Walau pun kita teringat bahwa, sejarah ini yang juga diketahui oleh masyarakat, yang "terasa lebih percaya" kepada marinir di masa pasca reformasi, Mei 1998, ketimbang angkatan lain, misalnya. Marinir dianggap di luar pusat kekuasaan pada masa transisi menuju reformasi di masa itu.
Nyatanya, museum nasional juga yang dihuni oleh Madov, yang kemudian menjadi sumbangan dia yang selanjutnya. Sekali pun dia mengingatkan, bahwa bagaimana kenangan pada "tonggak sejarah Pasopati" adalah sebuah hal yang wajib diingat. Tentang sejarah Trikora. Seperti ingatan pada kenangan masa kecil. Bahwa selain pianis Martina, ada pengamen keliling, yang pada prinsipnya sama-sama berkesenian. Ada kaitan antara Sungai Metro dan kolam renang untuk menggembleng marinir: Ada ikatan antara sejarah dan masa kini, antara kenangan dan apa yang dilakukan sekarang.

Jakarta, Januari 2005
*) Penulis sastra dan wartawan.

Tidak ada komentar: