Senin, 03 Januari 2011

Kedaulatan Pangan: PISANG POLITIK, SUSU POLITIK


Pisang Politik, Susu Politik

Binhad Nurrohmat*
Materi Bedah Buku Kedaulatan Pangan 2009



Rakyat sekalian,

Selain bercinta, kebutuhan dan kenikmatan paling primitif adalah makan. Rakyat bisa bertahan hidup tanpa bermain golf, membaca puisi, atau membuka facebook, tapi rakyat mati tanpa makan. Krisis pangan skala besar tak hanya membuat banyak rakyat perut lapar, tapi juga bisa mengguncang situasi geo-sosial-politik global. Banyak pemimpin negara kaya cemas akan terimbas oleh “amarah perut” rakyat yang terjadi di negara-negara miskin. Kecemasan ini bukan tanpa alasan, sebab kedaulatan pangan punya korelasi dengan eksistensi dan ketahanan bangsa.


Pendiri Bank Garmeen dan penerima hadiah nobel perdamaian Muhammad Yunus bilang, “Pemerintah takkan bisa mengatasi masalah harga beras yang melambung di negara-negara yang terkena krisis. Mereka boleh saja menerangkan alasan melambungnya harga, tapi rakyat tak akan memaafkan mereka.” Dan John Walton dalam risalahnya “Pasar Bebas dan Revolusi Kelaparan” berpendapat bahwa globalisasi dan pasar yang merupakan pilar dan penyokong negara-negara Barat yang kaya akan terancam oleh kelaparan dan krisis pangan di negara-negara miskin.

***

Rakyat sekalian,

Pangan adalah urusan semua orang. Raja, tukang ojek, maupun penyair tak bisa menghindar dari urusan makan. Jika (salah satu) etos kepenyairan adalah tersentuh oleh dan menyuarakan urusan banyak orang yang terbungkam kekuasaan, maka kehadiran buku kumpulan puisi “Kedaulatan Pangan” (2009) karya Yonathan Rahardjo ini beralasan secara politis maupun estetis.


Membaca kumpulan puisi ini akan menemukan banyak puisi yang memandang makanan tak semata sebagai kebutuhan biologis, tapi juga menjadi metafor politik juga misalnya puisi ini:


PISANG AMBON


Bangun bangun bangun

kurindu nahasiswa turun jalan lagi

makan nasi bungkus lemparan ibu-ibu

98 rontokkan gigi Suharto

sayang sayang sayang

mahasiswa terpecah kecil lebih dari rambut

gigi palsu Suharto lebih kuat lekat di gusi goyang

waha wah wah

mantan mahasiswa jadi juragan

lulus kuliah kerja enak di kursi empuk

berubahlah garis keras ke garis lembek

selembek pisang ambon

duh duh duh

buah besar yang keras hanya akarnya

buah lembek apalagi jusnya yang banyak disaji resto

bekas mahasiswa banyak suka

bangun bangun bangun

apa mahasiswa 98 sudah selembek pisang ambon rebus

ini?

kutunggu jawaban tidak

ya

tidak


Puisi “Pisan Ambon” bukan cerita romantik tentang pisang belaka. Pisang di sini bukan sekadar buah-buahan yang enak dimakan dan bergizi. Pisang dalam puisi ini “menendang” ke sana-sini, dari “jus pisang“ hingga “pisang politis” (apa mahasiswa 98 sudah selembek pisang ambon, katanya). Mitos pisang sebagai lambang ke-macho-an berubah menjadi lembek di sini. “Kontra mitos” juga bekerja dalam puisi ini.


Selain itu, puisi Yonathan pun menyinggung politik peternakan dan politik industri pangan yang meraih keuntungan dengan memberikan risiko terhadap konsumennya, misalnya puisi berikut ini:


SUSU INDONESIA RAYA


Susu minuman wajib protein hewani tinggi bukan?

mengelola susu mesti penuhi kaidah higiene bukan?

bahkan sejak pemberian pakan ternak

bukan cuma pangan peternak bukan?

bagaimana memeras puting?

bagaimana mengirim susu?

bagaimana memproses susu?

bagaimana mengemas susu?

bagaimana mengirim lagi?

namun bagaimana mungkin susu yang kita minum

bebas residu antibiotik

kalau para medis dan medis ternak selalu suntikkan

antibiotik spektrum luas

untuk tiap gejala penyakit yang cuma mirip?

bagaimana mungkin susu sapi yang kita sedot

nikmat dan yummy bebas dari pestisida

kalau air yang mengaliri rumput penuh pestisida?

susu siapa?

susu sapi atau susu kuda liar?

susu bebas atau cuma cap bebas residu antibiotika?

sispa bersepeda mengantar susu?

bisakah kita minum susu tanpa berpikir se-Indonesia

Raya?


Susu merupakan bahan pangan penting dan mendasar spisies manusia karena kandungan proteinnya. Pertumbuhan dan kecerdasan manusia sangat terkait dengan protein. Semua orang pernah minum susu, susu ibu maupun susu hewan/tumbuhan. Tapi iklan dan perdagangan susu kaleng (awetan) melulu membujuk publik dengan menjual khasiat atau manfaat susu. “Susu politik” dalam puisi ini menjadi “kontra iklan industri susu” yang cenderung tak memberikan informasi ke konsumen tentang bahaya kimia susu pabrik. Puisi ini melawan “pembungkaman informasi” yang dilakukan oleh politik industri susu.

***

Rakyat sekalian,

Tema dan gaya puisi Yonathan dalam kumpulan ini menggoret garis yang tak klise dalam kertas perpuisian Indonesia, setidaknya karya ini menjadi sebuah embrio yang akan lebih bisa memberikan perkembangan puisi yang lebih kukuh lagi, kelak. Kumpulan puisi ini memberikan banyak tantangan bagi dirinya sendiri dan juga bagi kejamakan perpuisian di negeri ini. Bagi saya, kumpulan puisi ini merupakan titik berangkat yang menjanjikan.


Rakyat menunggu…


*Binhad Nurrohmat

Penyair, pengamat rakyat


Materi Diskusi Buku Kumpulan Sajak KEDAULATAN PANGAN, karya Yonathan Rahardjo Kamis, 2 Juli 2009 pk 19.00-selesai di Newseum Cafe, Jl. Veteran I/33 Gambir, Jakarta Pusat.

Tidak ada komentar: