Rabu, 29 September 2010

Bi Gayah Sambalnya Mmm...m


Judul Buku: Bi Gayah Sambalnya Mmm...m
Pengarang: Rahmat Ali
Jenis: Kumpulan Cerpen dan Puisi

Penerbit: MAJAS
Tahun: 2005
____________________________


POTRET JELI PEMBESAR NYALI


Cerpen-cerpen Rahmat Ali adalah potret jeli setiap kehidupan kita sehari-hari. Membaca cerita-ceritanya, membuka mata dan hati pembaca untuk mengerti dan menyelami, setidaknya mencicipi apa-apa yang terjadi pada hampir setiap 'profesi' serta 'gaya dan problem hidup' sosok-sosok yang ada di sekitar kita, yang barangkali tidak semua orang bisa mendalami bagaimana liku-liku hidup rata-rata 'orang kecil' yang banyak dipotret Rahmat Ali dalam cerita-ceritanya. Lihat sosok tukang cukur (cerpen 'Sebuah Gambar di Ruangan Tukang Cukur'), pembantu rumah tangga ('Bi Gayah Sambalnya Mmm…m'), kopral tentara ('Narto'), tukang pijat ('Jenny').

Beranjak dari latar belakang geografis cerita sehari-hari di perkotaan semacam itu, ada nilai lebih dari cerita-cerita Rahmat Ali yang suka melancong, melintasi segala waktu dan tempat yang mendorongnya seperti memasuki lorong, tegak maupun condong, lurus maupun doyong, sedari lepas dari gendongan sampai menjadi seorang pamong yang pantas tinggal dalam gedong, Rahmat Ali telah menunjukkan kelasnya sebagai seorang penulis yang membuat semua yang terekam dalam benaknya adalah daya dorong kuat untuk menuliskan kisah-kisah nyata maupun imajinasi bukti dunia tulis-menulis adalah dunia sangat luas tiada aral melintang dapat jadi penghalang dan pemotong sikap total dalam menggeluti cerita hidup bak tak terbatas sepanjang-panjangnya lorong.


Tak berlebihan, tulis-tulisan Rahmat Ali adalah cermin dari apa yang direkam dalam setiap jejak kakinya, kebetulan saya tahu sedikit biografinya sekalipun untuk membuat bahasan tulisannya saya semata-mata berusaha lebih pada teks, bukan pada sosok penulis. Teks Rahmat Ali lah yang berbicara tentang kenyataan itu, banyak tempat yang ditulis dalam cerpen-cerpennya adalah tempat yang sangat variatif, mulai dari metropolitan padat dan sesak dengan segala kehidupan bergaya modern sampai tulisan di pelosok-pelosok sepi hanya penuh dengan kesendirian dan hanya bisa dijangkau dalam alam imajinasi ataupun daerah itu bisa dikunjungi sangatlah jarang orang ke sana karena tempatnya yang relatif terpelosok atau terpencil.


Terasa aromanya, yang ditulis Rahmat Ali kebanyakan adalah kisah-kisah nyatanya, entah itu ia sendiri yang mengalami atau orang-orang yang dijumpai di segala macam tempat itu, dan diselingi dengan tulisan-tulisan fiktif imajinatif. Pengarang ini sangat jeli mengamati apapun yang ada dan menarik perhatiannya. Apapun itu bisa jadi tulisan lancar. Seorang yang jarang mengamati atau 'membaca' lingkungan bisa menjadi mengerti bahwa lingkungan, apapun itu wujudnya, banyak menyimpan 'bahan bacaan'. Hal ini sangat tergambar dari judul-judul karangan penulis ini yang dengan segera akan dapat ditangkap apa yang bakal diceritakannya, benda sepatu, mesintik, lori, jaran kepang, sosok-sosok orang, dan rata-rata mengambil judul sosok sebagai subyek cerita yang akan dibahas, dan kadang-kadang bercerita tentang masalah sebagai subyek (‘Akibat Lepasnya Dasamuka’).


Barangkali memang benar anggapan bahwa seorang seniman adalah seorang yang suka hal yang detil, berbeda dengan orang 'lumrah', maka apapun diurai Rahmat Ali secara detil tadi. Terlihat, cerpen-cerpen Rahmat Ali juga diilhami oleh legenda-legenda rakyat terutama yang daerahnya ia kunjungi, dengan prinsip di mana tinggal atau berkunjung di suatu daerah, tulis yang kau jumpai! Lihatlah misalnya cerpen 'Jantuk' (Betawi), 'Moko Yang Terpanah' (NTT), 'Akibat Lepasnya Dasamuka' (Jawa), 'Bertemu Hang Tuah' (Sumatera), 'Krakatau, Krakatau' (Jawa-Sumatera), 'Gelombang Nyai Roro Kidul' (Jawa).


Tidak terpana pada kisah legenda dengan narasi baku, seringkali kisah rakyat itu harus menghadapi kekininan jaman, dan Rahmat Ali berhasil memadukannya dengan kebutuhan dan kondisi jaman saat tulisan itu dibuat ('Jaran Kepang', tradisional Jawa di dunia metropolitan). Rahmat Ali tampaknya mau tak mau mengaitkannya dengan hal-hal yang berbau mistik, magis, yang menghubungkan dunia nyata dalam ceritanya yang memang bergenre besar realistik dengan hal-hal yang mistik, surealis, tapi tak sampai menyeret tulisan Rahmat Ali bergenre surealis. Perpaduan realis dan mistis itu tampak dalam cerita-cerita dalam aliena ini, juga cerita yang menyoal langsung hal mistik seperti 'Kiriman dari Jauh' (maksudnya santet).


Yang tak dilupakan para pengarang biasanya menulis tentang dunia fabel, di mana binatang diceritakan bisa bertingkah dan hidup seperti manusia, dalam tatanan kehidupan masyarakat sebagaimana halnya manusia ('Sungut Sang Prabu Terlalu Panjang') atau setidaknya kalaupun hidup dalam situasi yang tetap dalam lingkungan hewan, mereka bisa berkata-kata dan bercerita tentang diri mereka ('Aku Seekor Merak').


Cerpen-cerpen Rahmat Ali didominasi dengan cara penulisan alur maju, dan sangat jarang memakai alur mundur, yang kadang hanya dilakukan untuk suatu kisah di masa lalu yang terkait dengan kondisi sang tokoh cerita saat itu, dalam pikiran, dalam percakapan, dan bukan dalam alur-alur utama cerita. Salah satu keuntungan besar dengan cara tradisional beralur maju ini adalah cerita menjadi mudah dicerna dan diikuti, tidak memerlukan banyak kebutuhan untuk mengotak-atik cerita dan membolak-balik halaman-halaman cerita bahkan membuat pohon cerita seperti yang begitu dibutuhkan dalam mencermati cerita-cerita moderen saat ini yang cenderung mencoba segala teknik yang baru termasuk teknik mozaik yang terfragmentasi satu sama lain.


Dalam penuturan cerita, dialog-dialog dibuat Rahmat Ali secara kental dan mengalir, namun lebih banyak dipaparkan melalui narasi di mana dialah sebagai penulis yang dominan menuturkan dan untuk menghindari terkesan cerita monolog ia memakai penggambaran dengan tokoh utama aku; yang acap dilakukan banyak pengarang, selain teknik tradisional masing-masing tokoh diceritakan sendiri-sendiri dengan satu tokoh utama dikelilingi tokoh-tokoh pendamping. Deskripsi yang dibuat Rahmat Ali meluas, meliuk dan kadang menyentak.


Adapun lukisan suasana yang dibuat terkesan kurang menggambarkan suasana secara memuaskan, karena seolah tuntutan cerita cepat mengalir dari satu kisah atau problem ke problem lain; karena kekuatan Rahmat Ali memang di sini, problem-problem itu dibahas cepat, sementara soal tuntas tidaknya masih bisa ditelaah lebih jauh lagi. Yang sangat terasa tuntasnya problem tanpa ‘doping’ pencepat alur cerita antara lain dalam cerita 'Dialog Membisu' yang menyoal kehidupan tiga anak manja atau kalah perang dalam hidup.


Rahmat Ali menuliskan semua lincah dan lancar, dengan gaya bahasa lugas mengalir menabrak batu cadas, dengan berani menggunakan ungkapan-ungkapan yang kadang melabrak kelaziman berbahasa dengan kata-kata mandiri seperti fisik menjadi pisik, bahkan kata pembunyian langsung menjadi kata kerja seperti didordordor untuk mengungkap ditembak yang tentu mengeluarkan bunyi itu, cuat-cuit terus mendesing (dalam 'Dialog Membisu'), mendokdokdok ('Jangan Ganggu') byar-byur-byar-byur, berkelontang-kelontang ('Kopi O, Kopi Goni, Teh Obeng, Mi Lendir dan Truk Dinosaurus').


Rahmat Ali juga tak lupa menggunakan kata-kata bahasa Jawa yang tampaknya menjadi bahasa ibu-nya yang mewarnai gaya bahasa bahkan detil kata ceritanya; aleman (artinya suka manja), mangkel (jengkel), trenyuh (terharu), unggah-ungguh (sopan santun) dalam cerpen 'Musim Bunga, magrong-magrong (besar megah) dalam cerpen 'Saat Tidak di Rumah'. Dia juga tidak segan-segan memasukkan istilah-istilah serapan baru dalam rumpun kalimatnya yang mungkin bagi orang tertentu mudah mengerti tapi bagi kebanyakan orang mesti berpikir agak lebih keras karena istilah ini bukan istilah yang lazim dalam penggunaan kalimat mengalir seperti itu. Entah apakah keterbatasan tempat pada suatu cerita pendek yang membuat Rahmat Ali pada beberapa karangannya mengakhiri cerita dengan hal-hal gaib, sirna, kembali ke alam, atau hal-hal semacam itu yang membuat konflik cerita menjadi begitu mudah berakhir, yang tentu saja mempengaruhi rasa dalam pembacaan.


Pada kebanyakan cerita yang demikian penuturan Rahmat Ali sebagai penceritalah yang dominan mengarahkan jalan cerita. Apa-apa menjadi begitu mudah diarahkan, tidak dibiarkan terus larut dalam konflik. Namun jelas cerita Rahmat Ali sangat kaya dari segi tema, karena apapun di tangan Rahmat Ali bisa menjadi cerita, yang patut dibaca siapapun suka mempedulikan kehidupan. Memperbesar nyali untuk merekam dan memaknai kehidupan, apapun akhirnya, apapun tamatnya, apapun selesainya, apapun ceritanya.


1. Musim Bunga (1960): Rahmat Ali memakai metafora tentang musim di mana hati berbunga seperti munculnya bunga di taman dan lembah indah. Cinta aku terhadap gadis yang dikenalnya saat pertemuan keluarga bersemi dan berwujud keindahan percintaan selama mereka masih satu kota. Begitu mereka harus berpisah yang ada adalah rindu dan si aku mesti melakukan sesuatu untuk keluarganya. Perhatian pada ibunya sering bertolak belakang dengan keinginannya untuk melakukan ekspresi kreatif seorang anak muda. Dan, itu berujung pada bagaimana aku harus mengambil keputusan untuk meninggalkan ibunya karena gadis yang telah membuat hatinya berbunga-bunga mengirimkan surat dari jauh yang mendorongnya untuk menemui si gadis dan meninggalkan ibu tercinta.


2. Laila, Istri Paling Kemayu di Dunia: Laila seorang istri dari tukang pos bernama Bima mesti mendapati kenyataan bahwa dalam pergaulan suaminya dengan teman-temannya akan sangat berpengaruh pada hubungan mereka berdua, yang saling menyayangi dan mencintai meski untuk perkawinan Bima yang ke sekian dengan Laila itu. Gelombang bahtera keluarga itu sungguh membuat Laila yang cantik mesti mencabik hati sendiri dengan mengambil sikap tegas terhadap sang suami namun sebagai istri Laila tidak mempunyai kekuatan cukup untuk itu, dan nyaris atau entah akhirnya memang Laila menjadi majenun, gila, dalam masa kehamilannya mendapati suaminya sering mabuk bersama teman-temannya yang merupakan orang yang dikirimnya surat.


3. Wanita Dari Luar Kota: Adalah wanita yang membawa seorang bayi yang datang pada rumah tinggal mahasiswa yang ternyata membawa misi tertentu sesuai dengan sumpahnya kepada suaminya yang telah meninggalkannya dan kawin lagi dengan wanita lain. Wanita yang datang dari jauh ini mengharu-biru kehidupan tenang mahasiswa itu hanya untuk menjaga sumpah untuk menculik dan menyembelih anak hasil perkawinan suaminya dengan orang lain. Dan setelah menculik anak itu, si wanita sempat mencederai suaminya hingga harus dikejar orang banyak dan menyelamatkan diri di rumah sang mahasiswa.


4. Sebuah Gambar di Ruangan Tukang Cukur (1972-2004): Tukang cukur yang mesti melayani dan menyenangkan para pelanggannya mesti menggonta-ganti gambar-gambar yang dipasang di ruang prakteknya sesuai dengan selera yang saling bertentangan pada diri pelanggannya. Berujung selera universal adalah gambar-gambar wanita cantik dalam pose-pose yang membuat hati berdesir, pilihan gambar terakhir ini berbuah kebahagiaan bagi seorang mayor yang dikembalikan memorinya tentang indahnya pernikahan dan cinta. Gambar yang dipasang telah menjelma gadis pinangan sungguhan bagi pelanggan tukang cukur. Entah kapan bagi ia sendiri.


5. Bi Gayah Sambalnya mmm…m (1975-2003): Seorang pembantu wanita yang tidak lazim, punya banyak perbedaan dibanding para wanita lain yang berprofesi sebagai pembantu rumah tangga. Perokok berat, suka membunyikan radio, punya kekuatan fisik yang luar biasa, suka mengumpulkan bahan pakaian, perhiasan namun tidak meninggalkan pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga yang banyak membantu kebutuhan tuannya, bahkan dengan sikapnya yang aneh dan eksentrik pembantu rumah tangga ini meninggalkan kesan mendalam bagi tuan-tuannya.


6. Saat Tidak di Rumah: Juga kisah tentang orang kecil, tinggal di daerah metropolitan di Jakarta yang didominasi kaum urban dengan kehidupan tidak berlebihan tapi mesti menghadapi gaya hidup konsumerisme di Jakarta yang banyak ditawarkan dengan produk-produk yang bikin ngiler wanita istri pegawai kantor. Dengan jeli Rahmat Ali memotret gaya hidup istri yang membuat gemas pembaca karena polahnya yang seenak sendiri, tidak peduli anak bahkan membiarkannya cedera, khususnya saat suami tidak di rumah. Tapi untuk menikmati gaya hidup konsumtif, si istri ini bahkan mesti menyusul suami yang sedang dinas ke luar kota yang celakanya malah menghabiskan honor yang suami.


7. Narto (1980): Kopral yang berdedikasi pada kesatuannya tapi hidupnya tidak beranjak naik hanya karena ia lebih mengandalkan kekuatan fisik tidak disertai dengan kecerdasan intelektual dan syarat-syarat lain yang menjadi kriteria kemajuan karir dalam struktur ketentaraan. Malah orang seperti ini hanya untuk menyelesaikan bangunan rumah yang belum rampung-rampung mesti minta bantuan wanita yang pernah ditolongnya, yang celakanya wanita ini mencari uang dengan jalan menjajakan diri sebagai pelacur, meski sebetulnya si wanita sudah terangkat kehidupannya dengan diperistri orang lain; tapi mau melacurkan lagi untuk cari uang buat penyelesaian bangunan rumah sang kopral.


8. Pagut (2004): Bercerita tentang seorang anak desa anak angkat mandor pabrik gula khas dengan latar pedesaan jaman sebelum kemerdekaan. Kisah romantis anak desa yang dekat dengan suasana dan kehidupan desa, kerbau, kolam ikan, sawah, surau, lokomotif lori perkebunan, ladang tebu, keluar masuk sekolah karena tidak mampu membayar uang sekolah swasta yang relatif lebih tinggi, tapi tetap diperhatikan oleh orang tuanya yang tetap bisa menyekolahkannya meski untuk mendapatkan biaya sekolah mesti melakukan pekerjaan apapun. Anak nakal ini baru merasakan arti hidup setelah nyawanya nyaris terbang karena digigit ular beracun. Si anak ini merasakan hidup yang lebih indah dibanding kehidupan bersama kedua orang tua kandung yang menelantarkannya.


9. Sol Demi Sol (1981-2004): Sepatu yang menjadi sahabat terdekat manusia moderen jaman ini mempunyai jiwa pula, dalam tulisan Rahmat Ali. Kisahnya adalah kisah sejauh mana sang pemilik mengalami kisah-kisahnya dengan orang-orang lain yang juga punya sepatu-sepatu yang lain, dengan sosok dan wujud dan fungsi yang lain. Kisah sepatu juga kisah sejauh mana sang majikan punya kepedulian terhadapnya, juga kepedulian atau sikap dari orang-orang yang dekat dan berhubungan dengan si tuan. Sikap keluarga majikan itu yang membuat nasib sepatu harus berakhir di bubungan atap, menyaksikan kehadiran sepatu yang lebih perlente, bersih dan baru dikenakan sang majikan yang bagaimanapun butuh penampilan oke.


10. Musim Layang-Layang (1996): Layang-layang dan pengejarannya serta seluk-beluk pembuatannya tak memisahkan dari siapa pembuat layang-laang, siapa pemilknya, siapa yang pandai memainkan, pandai mencari uang untuk bisa punya layang-layang yang indah dengan benang yang kuat yang bisa memutus benang-benang layang-layang lain jatuh meliuk-liuk di angkasa tinggi, terbang entah ke mana angin bertiup dan dikejar anak-anak meski hujan datang dan membuat mereka berbasah kuyub atau menjadi sangat kering tenggorokan karena udara yang kering sementara tidak setetes air pun bisa diteguk. Pengalaman masa kecil 'Aku' dalam cerita Musim layang-layang ini tak bisa terlupakan baginya hingga ia berburu layang-layang kehidupan sesungguhnya di metropolitan Jakarta yang keras.


11. Jantuk: Suatu zat, jiwa, roh masuk ke dalam guling dan menyaksikan kehidupan pemiliknya, pasangan pemain lenong betawi yang menyandarkan kehidupannya dalam pertunjukan kesenian tradisional yang kala itu masih digandrungi masyarakat tapi seiring dengan perguliran jaman kesenian ini menjadi tersisih oleh kesenian-kesenian yang lebih moderen dan berdampak buruk pada kehidupan pasangan seniman ini. Sang lelaki menjadi sangat terlunta-lunta mencari orderan manggung dari satu tempat ke tempat lain dan selalu gagal, tetapi dicurigai istrinya bahwa suaminya itu mencari perempuan lain untuk menyambung keturunan lantaran ia tidak bisa memberikan keturunan baginya yang sudah berumur uzur. Pembelaan zat, jiwa, roh yang tahu kondisi sesungguhnya pada sang lelaki terhadap wanita istrinya itu tidak mampu meluluhkan sikap keras si istri yang akhirnya lebih memilih menyatu dan kembali ke alam bersama jiwa, zat, roh yang keluar dari tubuh bantal pemain lenong betawi itu.


12. Jenny (1992): Tukang pijit atau tukang pijat? Rahmat Ali memilih menggunakan kata tukang pijit, yang berkonotasi lebih feminin, karena pelaku profesi ini adalah seorang wanita. Wanita tukang pijit yang dilukiskan Rahmat Ali di sini sebagaimana lumrahnya di panti-panti pijit atau lazimnya disebut panti pijat, senantiasa melayani tamu-tamunya lelaki-lelaki dari berbagai kalangan, profesi, tabiat, sikap, mulai dari lelaki yang santun dan menghormati sesamanya meski itu seorang wanita tukang pijit, sampai laki-laki yang kurang ajar dan memandang pemijitnya hanya barang tak layak diajak berkomunikasi dan profesi ini begitu nista padahal ia mau bahkan menyerahkan tubuhnya untuk dipijit dan digerayangi bahkan lebih dari itu. Dari semua sikap ini sampai lelaki yang mau mempersunting tukang pijit sebagai istri, sayangnya Rahmat Ali menenggelamkan nasib tukang pijit mau pasrah dalam kehidupan ini, dan mempedulikan dengan penuh rasa sayang kepada lelaki yang dipijit adalah kepedulian sebatas sebagai tukang pijit, dan hanya berlaku pada saat 'jam kerja' memijit.


13. Hari-hari dalam hidupnya: Kasihan nasib gadis yang menumpang hidup pada orang lain, bahkan tak lebih berperan sebagaimana pembantu rumah tangga yang melakukan pekerjaan rumah tangga sehari-hari, semua, semua dan semua, dan menjadi sasaran kemarahan lelaki dan perempuan yang ditumpanginya. Untuk menikmati warna kehidupan di luar rumah tangga itu, sangatlah jarang dan mesti mengambil kesempatan hingga suatu saat didapatinya kesempatan itu lalu untuk bertemu dengan seorang duda beranak, lelaki yang ingin meminangnya sebagai istri. Nasib, karena lelaki yang ditumpangi hidup di rumah itu entah berkata apa, duda yang melamarnya itu tak pernah kembali lagi muncul. Dan kehidupan gadis penumpang hidup ini kembali seperti biasanya, menjalankan pekerjaan tak ubahnya sebagai pembantu rumah tangga. Dari hari ke hari. Waktu ke waktu.


14. Dialog Membisu (1996): Tiga bersaudara dari sekian bersaudara yang sangat beda cara hidupnya dibanding saudara-saudaranya yang sukses bekerja dan berumah tangga. Sebetulnya pengalaman mereka pernah sukses bekerja di tempat jauh dari rumah, dan cukup membanggakan. Namun karena ketidakkuatan menghadapi problematika mental, mereka kembali ke rumah kedua orang tuanya. Dan menjadi beban. Dari hari ke hari hanya duduk dan bersantai-santai, waktu ke waktu menggilas kemalasan itu, sementara anak-anak lain, pemuda-pemudi lain sudah begitu maju dalam karir dan profesi, mereka hanya menjadi penghuni rumah orang tuanya dan menghabiskan waktu untuk tidak bertindak apa-apa dalam hidup. Tragis. Rahmat Ali memakai teknik syair dengan pengulangan kalimat yang sama pada beberapa alinea. Memberikan kesan yang menyayat-nyayat dan sungguh mencabik-cabik perasaan, merasakan betul suasana yang membosankan dan menekan mental ketiga orang anak yang telah menggerogoti kehidupan keseharian kedua orang tua malang ini.


15. Moko Yang Terpanah (1999): Keberuntungan berpihak pada dua sejoli suku nelayan, yang saat menjala ikan mendapati dua buah moko (genderang, tifa kuno) ternyata setelah disimpan di rumah sepasang moko ini tanpa diketahui memberi rejeki yang berlimpah kepada keluarga sederhana ini hingga hidupnya berkelimpahan dan terpandang di desanya. Ternyata pada saat semua tidur lelap pada malam gelap kedua moko bangun dan berkeliling desa untuk mencuri apapun yang menarik hati perhatian mereka dan disimpan di rumah kedua 'orang tuanya' tadi. Puncak sekaligus antiklimaksnya ketika kedua moko menculik anak-anak di kampung. Menculik lebih berat dari mencuri, kecurigaan penduduk suku itu tak terperi, mencari biang misteri dan mengejar dan memanah hingga moko jantan tewas, sementara si betina terluka dan hanya dengan kesediaan 'ibu'nya untuk berkorban si moko tak dibunuh walau akhirnya toh tetap tewas dalam perjalanan. Moko terpanah ini tersimpan sampai keturunan kesekian dari pasangan nelayan tadi.


16. Petualangan Bersama Bantal (1996): Merebahkan kepala di atas bantal membawa seorang lelaki tua beruban lelap dan terbang melayang angan dan memorinya ke seluruh masa hidupnya di masa silam dan bertemu dengan sosok-sosok dirinya dari segala usia, sejak anak remaja, pemuda, dan mempertemukannya dengan gadis pujaannya yang dulu tidak jadi bersatu dengannya tapi malah kawin dengan lelaki lain. Kini perempuan itu tidaklah seindah masa gadisnya yang dulu, namun kenangan terhadap indahnya masa bercinta mereka tak akan pernah terlupakan sepanjang ingatan.


17. Mesintik Kesayangan (1993-2004): Mantan sersan yang menjadi sopir bos besar memilih profesi sebagai pengarang karena tidak tahan melihat sepak terjang dan gaya hidup bos besar yang memojokkannya harus bersilat lidah dan berbohong terhadap istri bos besar yang begitu baik kepadanya dan kepada istrinya. Rasa bersalah dan tekanan batin mesti melakukan kebohongan-kebohongan yang tak lebih dari dosa dan kejahatan sepanjang ia menjadi sopir bos besar terpaksa ia lakukan hanya untuk menjaga rahasia sang bos besar. Mesin tik ini menjadi saksi atas semua itu. Teristimewa saksi kehidupan majikan setelah menekuni pekerjaan sebagai seorang pengarang, yang butuh kesunyian dan dalam kesunyian itu ada saja yang datang.


18. Aku Seekor Merak (1999): Keluarga merak hidupnya di kebun binatang, menimbulkan kejemuan bagi seekor anak merak jantan yang akhirnya berhasil memprovokasi saudara-saudaranya untuk keluar, lepas, dan melarikan diri dari sangkar kebun binatang yang memaksa hidup hanya untuk menyenangkan pengunjung kebun binatang, dengan ruang gerak terbatas, terkungkung dalam sarang. Hidup di alam terbuka memang menyenangkan tapi itu tidak lama, banyak ancaman kehidupan dan nyawa merak bersaudara itu. Dari lima ekor merak yang cari kebebasan itu, dua teman, dibedil dan terpanggang sengatan kabel listrik. Ingin kembali pulang mereka tidak tahu jalan, tidak ada jalan lain, kecuali menghibur diri bahwa lebih baik mati di alam bebas asal lepas dari kurungan yang membatas keleluasaan gerak.


19. Lori (1999): Anak nakal dan gerombolannya selalu membuat olah, onar, rusuh, sengsara dan mengganggu serta mau menang sendiri terhadap seluruh penduduk kampung di sekitar perkebunan tebu yang setiap hari dilewati lori pengangkut tebu. Para pemimpin kampung, tua-tua tidak ada yang berani bertindak tegas terhadap mereka dan terkesan menghindar atau membiarkan dan tidak mau repot menghadapi, kecuali para mandor yang harus mempertahankan batang-batang tebu terutama yang diangkut lori. Sekali kalah melawan mandor-mandor itu, gerombolan anak nakal berulah kembali sampai menyebabkan lori terguling kecelakaan dan tewasnya pentolan anak nakal secara mengenaskan dan menyisakan kesan angker wilayah sungai tempatnya menemui ajal.


20. Akibat Lepasnya Dasamuka (1988): Tidak seperti cerita Ramayana yang baku, di sani Rahmat Ali bercerita Dasamuka setelah dikalahkan Rama, diikat, digantung dengan kepala di bawah, ditempatkan dekat kawah gunung berapi dan dijaga Anoman dalam waktu yang sangat lama, hingga Rama meninggal dan jaman-jaman sesudahnya sampai Anoman tua dan lemah. Kesempatan Dasamuka untuk melepaskan diri pun tiba dan membuat banyak onar, kerusakan dan kehancuran seluruh negeri, hingga Dasamuka merasa tidak punya lagi lawan yang sepadan dan memutuskan untuk menghancurkan diri. Meskipun tubuhnya hancur dan mati, Dasamuka meninggalkan segala keburukan bagi alam dan manusia yang sangat sulit diatasi sekalipun oleh penguasa negeri selanjutnya.


21. Sungut Sang Prabu Terlalu Panjang (2000): Perlawanan negeri rimba terhadap raja keong dipatahkan oleh raja keong dengan virus yang membuat semua menjadi lamban, mengikuti sifat hakiki darinya. Awal perlawanan mereka karena harapan dengan terpilihnya keong menjadi penguasa nusa rimba yang adil bijaksana dan bisa memimpin negeri tidak bisa terpenuhi. Malah sebaliknya sifat-sifat buruk raja keong yang lamban membuat hampir semua permasalahan negara dan masayarakat nusa rimba tidak dapat tertangani dengan baik, menimbulkan begitu banyak kekacauan dan kemerosotan nilai hidup.


22. Bertemu Hang Tuah (1999): Pemberian keris pusaka kecil oleh seorang aneh pada seorang wanita membuatnya didatangi istri Hang Tuah yang diperintahkan Hang Tuah agar barang milik Hang Tuah itu dikembalikan kepadanya di kuburan keramat terpencil yang membutuhkan nyali untuk berani melakukannya. Untuk itu dibutuhkan pertolongan orang pintar yang sayang tak segera terjadi dan terpaksa dilakukan sendiri bersama teman. Sepeletakan benda itu pada tempatnya Hang Tuah datang dan mengambilnya lalu pergi dengan kapal besar meninggalkannya beserta istri Hang Tuah di dermaga, yang segera berubah menjadi tempat aslinya, kuburan sunyi.


23. Akibat Bom Virus (2002): Kerajaan kegelapan menjalankan misinya di bawah penguasa kegelapan yang ingin semua manusia mengikuti maunya, bertindak, bersikap, bersifat, dan bermoral bejat, dengan membombardir negara tujuan memakai bom virus yang bukan sembarang bom seperti bom konvensional yang meledakkan, meruntuhkan dan menghancurkan bangunan. Bom virus ini berbau sangat harum yang bila terhisap akan membuat penghisapnya berubah sifat menjadi jahat, tamak, rakus dan sebangsanya sifat-sifat kegelapan. Sayang tidak semua oknum, golongan dan profesi berubah bersifat jahat, buruk dan sebangsanya, karena masih ada kalangan yang bersikap melawan kejahatan ini sesuai dengan profesi dan kewajiban masing-masing. Kemarahan raja penguasa kegelapan tak terbendung dan kiriman bom virus kedua dibombarirkan lagi hingga semua orang, oknum, pribadi, golongan dan profesi menjadi benar-benar total jahat dalam segala bentuk manifestasinya yang memuaskan sang raja kegelapan dengan bom wangi.


24. Aku Naga Pengangkut (2002): Kereta api bentuknya seperti naga, jadi ide Rahmat Ali mengarang bahwa memang sebetulnya kendaraan ini naga dari perut bumi muncul untuk membantu manusia menggantikan atau melengkapi kendaraan-kendaraan pengangkut lain yang mudah rusak oleh kanibalisme dan ketidakberadaban manusia. Dan dalam wujud kereta listrik yang dikenal sudah menjadi kendaraan menghubungkan wilayah-wilayah empat penjuru mata angin itu terutama di perkotaan, metropolitn Jakarta, naga pengangkut benar-benar merasakan penderitaan menjadi sarana tempat kehidupan para penumpang dari berbagai kalangan yang punya gaya hidup macam-macam mulai dari pengemis, pemulung, pengamen, sampai perempuan-perempuan seksi dengan payudara nongol dan pantat bahenol, apapun profesi dan orang yang memanfatkan kereta jadi sarana pengangkut, kendaraan meski tidak bisa dihindari pencemaran, sampah, kerusakan bahkan pengrusakan yang terjadi dan membuat naga pengangkut ini fisik dan fungsinya begitu terdegradasi.


25. Krakatau, Krakatau (2003): Pertemuan seorang cerpenis dengan penari ular mantan pawang gajah di kapal yang menyeberang selat Krakatau berbuahkan manisnya hidup memasuki wilayah serba indah. Namun ternyata itu dunia lain yang menyeretnya masuk wilayah kekuasaan Ratu dunia lain wilayah Selat Krakatau. Dalam wujud roh tidak kelihatan, si cerpenis bisa melihat semua keluarga yang mencintainya dan ingin berkomunikasi dengan mereka, namun yang terjadi hanya gejala alam yang keluarganya tidak pernah tahu meski di situ si cerpenis di dekat mereka bahkan menyentuh tubuh atau tangan keluarganya.


26. Jaran Kepang (1997-2004): Kesenian tradisional bernama lain Kuda Lumping di sini disorot Rahmat Ali dalam perjalanannya menjumpai atraksi yang berdekatan dengan keberanian dan ketrampilan 'mistik'. Pemain kudang lumping berhasil menyatu dengan alam dan roh-roh gaib melayang-layang di angkasa mengundang kekaguman luar biasa dari para penonton, dan melakukan perbuatan-perbuatan ajaib, menolong semua orang berkekurangan dengan bantuan keuangan dan harta kekayaan yang didapat dengan merampok, menggarong dari sumber-sumber harta dan uang yang ada. Meski merampok untuk menolong yang menderita, perbuatan pemain jaran kepang ini tidak berkenan bagi roh-roh gaib dan alam hingga menimbulkan malapetaka, bencana alam yang luar biasa memporak porandakan kehidupan, sementara sang pemain kuda lumping gagal kembali ke asalnya, tetap dalam kondisi magis di alam lain.


27. Gelombang Nyai Roro Kidul (2002-2004): Kisah hilangnya orang di pantai atau lautan selatan sudah sering dijumpai, yang kini dikisahkan Rahmat Ali adalah kehidupan di alam maya yang tidak kelihatan orang yang merasa kehilangan karena tidak pernah kembalinya kekasih, ayah, suami, teman yang dikabarkan oleh berbagai mulut dan media massa telah mati. Padahal, di lautan selatan yang bersangkutan menikmati kehidudupan yang jauh lebih indah, enak, megah dan penuh kedamaian, berkelebihan, makmur dan adil, sangat bertolak belakang dengan kehidupan di atas daratan seperti yang diketahui tokoh utama sebelum masuk dunia Nyai Ratu Kidul. Sayang kebahagiaan ini menjadi sirna ketika sang tokoh melihat keluarganya di tepi pantai dan ia mendekat untuk menyapa mereka, mereka sama sekali tidak menggapai. Bahkan sekalipun telah dipegang atau disentuh atau sekedar digoda dengan cipratan air mereka tidak bisa melihat sosok lelaki yang sebetulnya sangat mereka cintai dan dinyatakan hilang.


28. Kiriman dari Jauh (2002-2004): Sakit karena santet dan sebangsanya bukan main rasa dan wujudnya. Banyak barang tajam yang semestinya untuk alat-alat kekerasan, binatang-binatang menjijikkan dan kotor di perut dan organ-organ tubuh hasil kiriman orang 'pintar' yang menjahati wanita tokoh cerita. Tentu saja pergi ke dokter tidaklah menolong, pergi ke orang pintar banyak sarannya. Ketahuan ada seorang lelaki yang dulu kalah saingan dengan suaminya dalam memperebutkan dirinya sang wanita molek. Hanya dengan ibadah suami lebih khusuk kiriman dari jauh itu dapat diusir, dan karena dianggap salah satu biangnya adalah rumah tinggal pasangan merekapun pindah. Tanpa melakukan balas dendam ternyata pengirim barang 'santet' itu ternyata tewas dalam kecelakaan mengerikan.


29. Jangan Ganggu (2004): Masa pensiun, masa paling indah. Masa di mana hasrat menulis bisa tersalurkan mulus, di mana hari-hari bisa diisi kegiatan yang mendukung proses kreatif penciptaan, bebas dari gangguan bisa berupa apa saja termasuk tekanan pekerjaan yang mengharuskan perhatian mesti pada penyelesaian tugas-tugas kantor dan atasan. Namun jangan dikira dalam menikmati masa penciptaan ini hal sekecil apapun tidak bisa menjadi suatu gangguan, bahkan kehadiran orang-orang yang sangat dibutuhkan sekalipun, seperti pembantu rumahtangga dan cucu-cucu. Juga pada masa-masa menyepi di kamar kecil dengan ritus sakral di mana ide kreatif muncul dan menyatu dengan imajinasi terangkai dalam angan untuk berlanjut dalam laku teknis dalam mewujudkan suatu karangan karya. Makin peka seorang seniman, makin detil ia meluncurkan kata dan peristiwa yang seolah remeh tapi sebetulnya berdaya sentuh besar pada langkah berikutnya.


30. Kopi O, Kopi Goni, The Obeng, Mi Lendir dan Truk Dinosaurus (2004): Seorang suami yang sering memuja-muji masakan dan suguhan istri di rumah bahwa masakan dan minuman itu enak dan lezat belum tentu menyatakan hal yang sesungguhnya. Yang membuatnya sering tidak muncul di rumah juga belum tentu karena perempuan lain penjual makanan di tempat yang biasa dikunjungi dalam menjalankan pekerjaan sebagai sopir traktor tambang granit. Tapi, yang sebenarnya adalah si lelaki sangat menikmati makanan dan minuman yang enak di warung itu.



PUISI RAHMAT ALI


Bila dalam buku ini memang jadi disisipkan (yang ternyata akhirnya oleh penerbit dikelompokkan cerpen-cerpen dahulu baru disusul kelompok puisi), menikmati sajak-sajak yang disisipkan di antara cerpen-cerpen Rahmat Ali, membutuhkan perpindahan konsentrasi yang butuh ketrampilan cara menikmati puisi yang berbeda dengan metode menikmati cerpen. Tidak semua orang suka puisi. Tidak semua orang pula menyukai cerpen. Kalaupun ada yang suka kedua-duanya, perpindahan gelombang pikiran untuk menangkap sinyal puisi maupun cerpen bisa merusak gambaran penikmatan; seperti halnya gambar di monitor televisi.


Kesan penyisipan puisi ini dimaksudkan sebagai selingan yang membuat pembaca tidak jenuh untuk membaca cerpen-cerpen bisa dimaklumi; namun mempertimbangkan hal itu malah bisa memunculkan efek samping yang tidak diharapkan. Apalagi terhadap suatu apresiasi puisi yang mempunyai genetik berbeda dengan cerpen. Bertaburannya puisi-puisi pada tempat yang terpisah-pisah terpaksa membuatnya harus mengumpulkan puisi-puisi dalam kelompok sendiri. Lalu disusun sesuai dengan metode pembedahan karya. Tidak ada jalan lain, itulah yang saya lakukan.


Yang paling bagus memang mengelompokkan puisi-puisi itu, lalu menyusun berdasar tahun pembuatannya untuk melacak histori karya Rahmat Ali yang tentu bukanlah semua karya puisi yang pernah dibuatnya, tapi barangkali puisi pilihan saja. Namun, rentang tahunnya sejak 1959 sampai 2004, kondisi berbeda dari pengarangnya akan membuatnya susah menyebutkan karya pada suatu masa sebagai suatu karya yang bergejolak penciptaannya, yang secara intens dilakukan untuk mencapai karya-karya puncak; kecuali, memang cukup menjadi karya yang muncul mengikuti impuls suatu saat.


Meski begitu, ada baiknya bila kita coba menikmati puisi demi puisi itu terlebih dulu, baru disusun berdasar tahun pembuatannya, tinggal kita petakan bagaimana kegelisahan puitika Rahmat Ali di sela-sela intensitasnya berprosa yang begitu tinggi. Itu hanya alternatif terbaik saja, walau akhirnya saya lebih memilih menyusun sesuai urutan pemuatan puisi dari halaman depan saja, yang menyelang-nyelingi cerpen-cerpen yang ada; dan saya membahas setiap puisi, yang ternyata, semoga bukan kebetulan, tertangkap secara global genetik puisi-puisi Rahmat Ali adalah puisi yang prosais, mengambil thema bermacam-macam, mengandung kegelisahan moralitas, kemanusiaan alias humaniora yang mengangkat masalah-masalah mendasar hidup manusia (‘Sajak Tentang Tiga Dunia’), yang menyentuh cita rasa manusia (Sajak Nglangut), problema manusia (‘Janda Almarhum’), atau suatu potret kehidupan manusia (‘Biduanita Rock yang Molek’), dikawinkan dengan kondisi lingkungan yang berhasil dipotret secara jeli (‘Si Buyungdunia Pergi Tidur’, ‘Pesta Jakarta’, ‘Kisah Suatu Teluk’), menyoal keadilan (‘Balada Bersekolah yang Beratap Langit’), yang mana balada alias sajak yang mengharukan ini juga tampak pada beberapa puisi yang lain termasuk ‘Cah-cah Ayu Dari Gunung’, beberapa mengandung muatan religiusitas (‘Semua Tunduk’) dan beberapa lebih tepat disebut puisi agamawi karena langsung mengantar pada suatu ajaran agama tertentu (puisi ‘Zamzam’,‘Ka’bah’), sementara religiusitas nilai-nilai lebih bersifat universal tak berbatas simbol-simbol keagamaan. Dan yang tidak ketinggalan, puisi cinta (‘Cinta, Cinta’, ‘Hei’) yang ‘pastilah’ semua penyair melakukannya.


Dari segi teknis, Rahmat Ali seperti kebanyakan penyair mencoba menyeimbangkan rima, irama, tipologi, metafora dan permaknaan kata. Namun tidak bisa tidak, pemilihan teknis ini tidaklah mungkin bisa diakomodasi semuanya, karena pemaksaan suatu teknis misalnya memakai rima melulu bisa-bisa malah mematikan teknis lain yang jadang kalau dibebaskan akan memberi suatu gereget sendiri suatu karya. Setidaknya terasa ada kesadaran Rahmat Ali tidak ingin mengebiri makna hanya karena menghamba pada metafora, sebaliknya tidak menghamba pada metafora bilamana pada saat itu yang akan sangat kuat kenangannya adalah persamaan bunyi, suku kata atau rima.


Memang namanya seni, membutuhkan kepekaan perasaan yang hanya muncul bila diasah dan kadang sulit terdefinisi untuk menyunggi misteri yang menjadi bahasa utama puisi, penuh kejutan, kadang mengangkat kadang menjatuhkan, kadang menghempas kadang membumbungkan perasaan, pikiran atau imajinasi, yang ujung karya utamanya adalah kenangan, kesan yang sangat membekas sebagai keberhasilan suatu puisi.


Maka, kemudahan untuk diingat merupakan satu keberhasilan puisi. Karena ada beberapa keinginan yang mencoba memadukan unsur-unsur estetika dalam bangun puisinya, Rahmat Ali mencoba menyusun cerita pendek menjadi lebih pendek lagi dalam baris-baris terpisah sebagaimana lazimnya teknik tipologi dalam puisi seperti yang tampak pada beberapa puisi yang kisahnya adalah potret lain dari kisah pada cerpen-cerpennya (‘Jantuk’, ‘Janda Almarhum’). Tentu saja dengan penuturan berbeda dari cerpen yang sangat mendetil, sementara puisi-puisi ini lebih terikat pada unsur-unsur estetika itu yang bila dikawinkan dengan majas yang dilahirkan bisa menuntun ke perbedaan antara prosa dan puisi secara anggun. Walau, kadang perbedaan itu tipis dan membahayakan jati diri puisi yang bersangkutan kalau penuturan bercerita begitu kental prosanya seperti dalam puisi ‘Bis’ yang diselamatkan perpuisiannya dengan permainan tipologi.


Tak dapat dibantah hal semacam ini memang sudah jadi milik dan memperkaya sastra kita bahkan sastra dunia seperti halnya puisi pendek ‘Sajak Barbir’ yang pendek, bahwa puisi bisa sangat prosais, dan sebaliknya prosa bisa sangat puitis, walau untuk mengembalikan kepada genetisnya masing-masing itu tetap suatu hal terbaik karena pasti dalam genetisnya sendiri masih banyak yang bisa dieksplor, tidak berhenti pada ‘penemuan’ perpuisian kita yang mandeg pada tokoh-tokoh sentral yang dianggap masih saja meraksasai puisi. Selebihnya mencermati puisi-puisi Rahmat Ali secara individu puisi, akan tampak keberanian Rahmat Ali menggunakan kata-kata ‘aneh’ yang mewarnai puisinya, mencari makna baru dengan bermain kata-kata itu yang tentu saja masih berbenangmerahkan dengan bangunan utuh puisi itu dengan kalimat lain.


Persoalan unsur-unsur estetika itu teramu dalam suatu orkestra yang meninggalkan kenangan, penikmat yang bisa menilainya setelah merasakannya, karena mirip dengan gaya penceritaan dalam cerpen-cerpennya, terasa eksplorasi masalah sering tidak tuntas dan mudah selesai (baca puisi ‘Ajari Lagi’, ‘Balada Bersekolah yang Beratap Langit’), sementara kalau dipertajam lagi bisa bernilai lebih dari pesan yang tanggung.


Percikan-percikan gemerlap atau redupnya puisi Rahmat Ali bisa dijumpai sebagai penik-pernik setiap puisinya, yang akan lebih mengena dan bermanfaat bila ditelaah satu per satu. Saat mulai berkomentar, saya tidak mencantumkan halaman pemuatan puisi-puisi itu karena saat itu buku ini masih berupa konsep yang butuh diteliti dan dikoreksi lebih teliti. Ada beberapa pemuatan yang tidak tepat halamannya sesuai daftar urut di depan. Ada puisi yang judulnya ada di daftar tapi pada isi buku ternyata tidak ada, mungkin keliru dengan judul yang lain. Seperti puisi 'Semua Tunduk' yang tidak ada di isi tapi yang ada adalah puisi 'Mungkin'.


Tanpa mengurut tahun pembuatannya, saya memilih untuk membahas karya-karya yang ada apa adanya, dengan harapan lebih tekstual pembahasannya. Harapan lain tentu agar upaya pencapaian karya puisi yang bernilai dari Rahmat Ali itu benar-binar bisa ditemukan kecemerlangannya.


1. Cinta, Cinta (1961): Tentu yang dipakai Rahmat Ali untuk terbang ke ranjang kekasihnya bukanlah kemeja, tapi sayap-sayap rindu yang berkemeja. Kemeja ini untuk melengkapi sayapnya yang tidak polos, telanjang, kerinduannya yang terbang seperti sayap dipersolek dengan kemeja. Metafora dua lapis ini (sayap rindu, kemeja) memberi nuansa lain untuk suatu cinta. Apakah cinta itu harus begitu berpenampilan? Diulang dengan bekal yang lain 'berbekal kalbu seribu', cinta menjadi penuh asesoris muatan. Tapi rupanya tidak demikian dalam pandangan Rahmat Ali, ia menilainya sebagai suatu kurnia, ia tekankan hal ini yang mungkin tak terpikir sebelumnya saat membaca baris-baris awal dengan kata penguat 'Duhai'. Ditambah metafora lagi, 'Cinta itu sendang (kolam, jawa, Rahmat Ali acap memakai ungkapan Jawa) pegunungan dalam dadaku' yang mengundang kekasihnya untuk bersama menikmatinya. Ditambah lagi metafora-metafora yang lain tentang cinta itu, menunjukkan penguasaan metafora pada sosok Rahmat Ali. Referensinya tentang cerita klasik Rama Sinta memudahkan pembaca mengikuti pergolakan resah dalam suatu cinta. Suatu temuan tersendiri manakala dia gambarkan resah cintanya itu dengan panah dan kijang emas di hati kekasih, dan ia menjelajah cinta itu dalam raba pada kijang emas terpanah, dalam rimba, dalam rambut, hati di malam. Ia telusuri cinta itu sebagai suatu pencarian yang mempertemukan hatinya dan kekasihnya dalam satu surga. Di karya Rahmat Ali, resah dengan segala gundah nyatalah indah dalam suatu cinta.


2. Si Buyungdunia Pergi Tidur (1960): Tapi buat apa tekad dan pedang, kalau dalam bait-bait sebelumnya tidak disinggung tentang suatu peperangan? Pertanyaan ini menggelitik ketika pada awal puisi ini diungkap bagaimana malam, yang di'aku'kan oleh Rahmat Ali yang bertutur kepada bui yang di'si buyung dunia'kan. Penuturan yang mengalir dan dengan pengambilan pernik-pernik alam, bintang, rembulan, burung, angin sepoi. Satu kata yang bisa menghubungkan ada di akhir bait pertama 'seharian penuh kau telah berjuang demi hidup harimu'. Ada hubungan, tapi tetap terasa jauh dari tekad dan pedang yang ada di bait terakhir. Penyelamat makna baris ini adalah kalimat di baris sebelumnya '...taklukkan segala yang merimbakan hidup'. Malam yang melindungi buyung dunia tetap merelakan bahkan mengharus buyungdunia bangun dan menghadapi hidup. Dan jangan kuatir, bui dan malam akan menyatu lagi. Rahmat Ali berhasil mendetilkan kondisi perubahan hari pada perputaran alam dan memanusiakan mereka. Ada harapan yang menyatukan makna kalimat dalam ujung puisi 'Dengan serangkai bunga di tanganku (malam) kita (bumi dan malam) kembali temu!'.


3. Janda Almarhum (1961): Puisi yang prosais menceritakan seorang yang mesti mencari nafkah dan menghidupi anak-anaknya dengan susah payah karena ditinggalkan suaminya, mengingatkan pada cerpen rahmat ali tentang kuda lumping di mana penmainnya mesti tewas dalam kondisi magis tak bisa kembali ke dunia karena sudah menyatu dengan alam supranatural. Meski prosais, unsur puisi yang penuh misteri menyisakan tenaga dan energi meski dicurahkan untuk mengimbangi gejolak emosi yang bisa muncul karena membaca baris-demi baris puisi yang tragis karena permainan kata yang dipilih Rahmat Ali. Amati kalimat awal: karena/ kematian 'dialah kuda beban ditunggang anaknya lima', yang akan meluncur beberapa baris lalu ditemui lagi kalimat senada 'berlari dikendara lima penunggangnya', meluncur lagi beberapa baris lalu ditemui lagi kalimat 'berlari dia membawa anaknya lima'. Permainan kata yang akan terasa gejolaknya setelah mengamati baris-baris kalimat di antaranya adalah suatu pergulatan dan kemampuan Rahmat Ali melukiskan misteri hidup susah. Dipukul pada akhir dengan suatu harapan mempesona: karna tahu, putra-putra Suparman penunggang setia/ yang kelak menahtakan kuda beban di singgasana/mulia.


4. Kisah Suatu Teluk (1975): Permainan personifikasi jadi andalan puisi Rahmat Ali ini. Selubung tubuh, mata berkilau, beralis, semua diberikan untuk laut dan sebangsanya, juga kata-kata menggoda, telentang, menelanjang, diperkosa, ditunggang, membelalak, dan sebagainya, meluncur dengan berurutan di sela-sela sosok laut yang punya tanda-tanda kehidupan sebagai sosok pribadi yang kadang dimetafora, disimbolkan sebagai makhluk lain yang jika membayangkannya akan terasa sifat dari makhluk yang bersangkutan akan memberi nyawa pada teluk yang dikisahkan. Puisi kisah, dengan unsur-unsur pembangun puisi semacam ini bukan hal sepele, meski banyak dilakukan orang tetap menjadi suatu pendorong lebih memperkaya perlambangan alias metafora yang lebih meriah dan lebih kaya lagi untuk menjemput gol terindah dari suatu karya sastra yaitu imajinasi, bukan sekedar kognitif, dan memberi kenangan karena imajinasi akan selalu membuat kita mudah mengenang.


5. Bis (2000): Kembali Rahmat Ali menunjukkan giginya yang kuat dalam berkisah, soal bis kota yang menjadi bagian hidup tak terpisahkan masyarakat perkotaan dan metropolitan kini kembali menghiasi puisinya, dan ia dengan berani memasukkan kata yang biasanya pada istilah kaum elit dan birokrat negarawan ke dalam dunia yang jauh dari kemewahan, karena memang bagian sederhana dari masayarakat biasa. 'Kucoba mengintegrasikan diriku ke dalam bis'. Integrasi, kata yang gagah masuk keringat penumpang bis kota. Agaknya permainan pilihan kata yang bukan sewajarnya ini menjadi hal yang patut pula dinikmati, seperti apa yang ditulisnya di baris akhir puisi ini: Pahit konyol, suka tak suka,/Perlu dinikmati! Walau tentu saja yang dimaksud Rahmat Ali tentulah kondisi susah bertranspor di dalam bis kota yang sesak dan berjubel penumpang berkeringat 'lengur serba tidak sedap', yang khas Rahmat Ali: puisi prosais.


6. Mungkin (2000): Ia berani memakai kata kekedepanan yang menjadi lawan dari keterbelakangan. Ada pula kata keberbedaan. Mengapa tidak keterdepanan? Mengapa tidak perbedaan saja/ mengapa harus jadi panjang sukukatanya hanya dalam satu kata yang mestinya bisa diperpendek dan mudah diingat hanya dengan pengucapan lebih singkat tanpa mengurangi makna karena makna keduanya sungguhlah tidak berbeda setidaknya berdekatan satu sama lain? Tapi itulah pilihan bahkan garis otoritas seorang penyair sebagai produsen kata-kata, mencipta dan memberi makna, yang barangkali tidak demikian berani dilakukan oleh pengguna kata seperti wartawan dan kalangan profesi lain. Hanya bedanya pada Rahmat Ali, makna kata ini masih bisa dimengerti karena ia tak pernah melepaskan katanya menjadi seorang diri di belantara kosong. Artinya ia selalu memberi teman, kata-kata dan kalimat yang lainlah sang teman ini.


7. Sajak Ngebut (1980): Ada kejenakaan di sini, satu kekuatan Rahmat Ali yang lain. Sosok sajak disandingkan dengan bis, sekali lagi bis: …./kuboncengkan sajakku/menggelantung pintu/sementara di bawah/roda laju/aspal tajam ancam/para penumpang beresak-desakan// Bukan, bukan diri seorang manusia, tapi ‘sekuntum’ sajak yang sudah dipersonifikasi oleh Rahmat Ali. Itu jadi jenaka, terlebih karena selanjutnya dengan lincah Rahmat Ali memprosa puisikan situasi apapun yang terjadi di dalam bis kota, meski terasa juga tak ada maksud berjenaka ria, tapi kondisi di situlah yang bercerita dengan sendirinya, tentang semua orang yang berlaju di dalam bis kota itu. Keberanian Rahmat Ali menempatkan kata yang unik dan tidak semestinya ada pada suatu situasi, membuat ingatan pertama kali ‘mencerna’ dan ‘mengesaninya’ dada pula dalam: ayo tancap/ sajakku lebih ringan kapas/ tidak memar hempas. Tidak ada keinginan bermetafora di sini tapi itulah apa adanya, potret di bis kota namun ada suatu yang di atas kenyataan atau realitas, karena ia bisa hadir tanpa seperti kehadiran manusia biasa, yang hanya mungkn ada di dalam benak, itulah sajak di bis kota yang ngebut, mendorong nasib buruk penumpang, tidak sebaik nasib si ‘sajak’.


8. Sajak Barbir (1980): Kalau tidak melihat di kamus, tak bakalan sebagian pembaca mengerti apa makna dari kata ‘barbir’; tapi untungnya meski tiada tahu maknanya biasanya suatu kata akan dimengerti bila membaca kesatuan utuh kalimat atau cerita sebagai suatu kesatuan kontekstual. Setidaknya konsep itulah yang banyak dijumpai pada puisi maupun cerpen Rahmat Ali. Juga pada sajak ini, sajak terpendek dalam kumpulan puisi ini, hanya enam baris, tujuh dengan judulnya, dan setiap baris hanya dua atau tiga kata, tapi yang namanya puisi memang sependek apapun, komentarnya tetap bisa sangatlah panjang. Ada kenangan tragis dari leher yang sekerat, risau yang mengkeret, yang mendorong tangan itu barbir, dan mau bertindak apa saja untuk mengatasi atau menyalurkan kegamangan itu. Ya, karena ia tukang cukur (barber, barbir) yang tiap hari menghadapi dan memegang kepala orang, leher orang, rambut orang.


9. Sajak Tentang Tiga Dunia (1959): Permainan sajak yang bisa diartikan bahasa teratur, bahasa ketat terasa di puisi Rahmat Ali ini. Persamaan rima awal dan rima akhir sungguh ketat diperhatikan di sini. Masing-masing dikelompokkan dalam bait sendiri-sendiri, ada tiga bait yang secara parallel gaya pengucapannya hampir mirip, tapi mengisahkan kondisi yang berbeda, dunia yang berbeda. Pengulangan kata atau suku kata dalam sajak memang suatu teknik tersendiri untuk memberikan tekanan kesan. Kesan itu akan membekas dengan detail uraian tentang kondisi yang dipaparkan, tiga dunia yang berbeda: masa sebelum kehidupan atau kelahiran hingga saat dilahirkan ke dunia, masa saat hidup yang penuh dengan segala macam penderitaan yang akan berakhir dengan maut, masa maut dan sesudahnya apa yang akan terjadi? Kekuatan kalimat dan kesatuan dengan kalimat yang bercerita lainnya, menjadi ciri Rahmat Ali dalam puisi ini.


10. Hei (1987): Kembali Rahmat Ali ingin bermain dialog di puisi ini. Dua insan dimabuk asmara mengapa saling menolak bila hal terelok sudah menjadi milik jiwa? Puisi ini bisa dinikmati dengan membacanya tenang, juga apalagi bila dibacakan dengan tekanan intonasi dan irama. Terasa dialognya, dialog cinta. Tapi cinta mereka di sini tidaklah cinta tembak langsung antar dua sosok, ada kalbu dan cinta yang bercinta. Ada bahasa puisi yang bermain-main di hati. Ngiang kata Hei, sapaan ini bisa terasa dalam susunannya sebagai pembuka menunjukkan puisi macam apa yang dimaui Rahmat Ali. Puisi dialog memang salah satu gejala di antara lebat belantara perpuisian kita, bukan semata puisi satu arah; kalau itu dilakukan pada puisi Jantuk, di sini ternyata masih suatu ungkapan perasaan satu arah, yang punya kalbu pada baris kedua.


11. Jantuk (1986): Lelaki dan istrinya, keduanya pemain Lenong Betawi yang dikisahkan Rahmat Ali dalam cerpen yang berjudul sama, saling mengutarakan isi hati tentang sosok guling yang berisi zat, roh , jiwa yang dari dunia lain, meski sekali lagi di depannya berujud guling. Saling berdialog lah mereka, tentang sejatinya Jantuk bagi mereka. Dalam bahasa puitis, dialog ini terasa beda dengan penuturan cerpen. pemenggalan anak kalimat, pembarisan, dan permainan rima, serta pemilihan kata untuk pada suatu saat menekankan suatu pesan, dilakukan Rahmat Ali yang mencoba membedakan dengan jelas, apa itu bahasa cerpen dan bagaimana pula bahasa puisi.


12. Biduanita Rock yang Molek (1987): Kita lepaskan bahasan kecenderungan berprosa dalam puisi Rahmat Ali kali ini, karena memang hal itu begitu nyata. Kita lepas bahasan pemenggalan kalimat jadi baris berbeda dalam tipologi di sini, karena itu sudah lazim dilakukan juga penyair-penyair lain. Kita lepaskan bahasan permainan metafora di sini, karena rata-rata puisi Rahmat Ali memang tidak gunakan jurus ini. Kita tajamkan pembahasan tema, tepatnya detil tema, karena di sini letak keunggulan Rahmat Ali, bahwa ia berhasil memotret susahnya kehidupan penyanyi berbalut gemerlap malam yang banyak dijumpai di Jakarta malam, ternyata sudah beranak tanpa tahu siapa bapaknya. Gejala jaman yang ditangkap Rahmat tentang kehidupan seks bebas. Entah kenapa.


13. Sajak Nglangut (1980): Kekuatan Rahmat Ali sebagai cerpenis mempengaruhi puisi-puisinya yang kalau tanpa permainan tipologi yang memisahkan kalimat utuh menjadi beberapa baris memberikan efek tertentu, menuntun pembaca pada penekanan-penakanan rasa dan kesan; atau permainan kalimat utuh dalam suatu prosa menjadi berkurang bagian-bagian anak kalimatnya, pendek-pendek menjadi kalimat berbaris sendiri-sendiri. Apapun, dalam puisi Rahmat Ali yang inipun terasa kisah atau stori alias ceritanya, dan ia berhasil melukiskan bagaimana dan apa yang terjadi bila seseorang nglangut. Kembali Rahmat Ali memakai bahasa Jawa, nglangut, suatu tindakan seseorang yang pikirannya mengembara. Tradisi kepenyairan klasik yang sungguh memperhatikan rima tampak di sini; beberapa baris berakhir kalimat bersuku kata sama, tiga baris berakhiran i, empat baris berakhiran at, dan seterusnya. Efek bunyi dicoba ia berikan, apapun ada pengaruhnya pada suatu kesan. Itulah puisi.


14. Pesta Jakarta (1975): Kembali kejelian Rahmat Ali menangkap suasana Jakarta membawa pembaca kembali ke tahun 1975 tergambar di benak, memori sejarah tentang Jakarta yang punya romantisme masalalu dan optimisme masadepan, dan seperti biasa dalam cerpen-cerpennya, kehidupan keseharianlah yang tak luput dari pengamatan. Juga, sejarah ! Rahmat Ali menguasainya dengan detil, khususnya pada hal yang unik, meriam jagur yang bisa memberi harapan cinta buat lelaki dan perempuan dalam segala problema. Kalau orang tak menguasai hal semacam ini, tak mungkin bisa menuliskan dengan lancar. Rahmat Ali terbukti punya merek dagang tersendiri.


15. Cah-cah Ayu dari Gunung (1987): Maka mempelajari puisi-puisi Rahmat Ali, kita tak perlu dibuat pusing pengistilahan puisi yang sepanjang pengamatan penulis setiap orang berhak punya penilaian sendiri tentang apa makna puisi dan apa puisi itu bagi setiap orang, yang secara garis besar dapat dikatakan suatu bahasa kesan, lebih memainkan rasa, bisa juga pikir tapi tetap bernuansa misteri, keindahannya seperti embun dan cahaya matahari pagi, kebetulan sesuai judul, keindahan wajah molek bocah ayu dari gunung. Permainan rima, irama, metafora, tipologi, memang tidak semua bisa diakomodasi dalam suatu bingkai puisi, tetap tidak menggulingkan suatu karya disebut puisi, yang penting nilai kesan yang tersampaikan oleh majas dan estetika dalam bangunan utuh suatu puisi, yang seringkali butuh keberanian memilih mau mengambil gaya yang mana. Asal tidak ragu, akan punya karakter sendiri. Dan, terfokus.


16. Semua Tunduk (1995): Tampaknya saat menjalankan ibadah Haji, Rahmat Ali

merasakan suatu ketakjuban luar biasa dalam dirinya saat ‘bertemu’ dengan Tuhannya. Ia tidak lragu lagi melukiskan kemahadahsyatanNya dengan pilihan-pilihan kata yang mencoba lain, dari hal mikro, mezo sampai makro ia coba ungkapkan puja-pujinya kepada Tuhannya. Puisi menjadi bahasa paling efektif untuk hal-hal semacam ini. Karena, puisi memakai suatu getar dalam rasa dan pemikiran yang terkadang mesti harus saling menunjang, bahkan sering tak bisa dilepaskan ikatan keduanya. Intelektualitas akan menunjang pemahaman bahasa-bahasa asing, aneh, tak lazim, atau membahasakan unsure-unsur alam yang sangat terkait secara erat dengan penciptanya. Puisi religius Rahmat Ali dari bertaburnya puisi-puisi bernuansa moralitas, kemanusiaan alias humaniora dan beberapa puisi cinta.


17. Zamzam (1995): Religiusitas dalam puisi, hal yang lumrah bagi penyair-penyair Indonesia yang memang berkultur atau minimal dikelilingi kultur agamis. Nilai yang diungkap lebih merupakan penegasan dari nilai-nilai yang ada, atau pengalaman batin yang berlatar belakang agama bersangkutan. Rahmat Ali memorikan air suci itu dengan gaya puisi klasik yang penuh rima sama. Pemilihan suku kata akhir yang sama butuh penguasaan kosa kata, kalau tidak terksan mencari-cari dan kadang bisa-bisa hampir mematikan kekuatan yang lain, karena tidak semua saat harus berima ini, ada kalanya membiarkan permainan makna kata yang bermakna sama, berdekatan, rumpun berdekatan, berlawanan kata, klimaks dan antiklimaks, ironi, sarkasme, bahkan kejutan-kejutan dengan kata-kata lucu yang terbingkai sesuai konteks dan alur pesan yang diberikan. Kembali kali ini Rahmat Ali memakai rima akhir yang sama.


18. Ajari Lagi (2000): Kegelisahan antara baik dan buruk muncul di puisi ini. Hal mempertentangkan semacam ini merupakan suatu teknik yang banyak dipakai, untuk memberi konflik yang merupakan nafas utama suatu cerita maupun bahasan sastra. Puisi ini pendek, bahkan bahasannya jauh lebih panjang. Yang ditonjolkan ketidakberdayaan manusia kini, yang ternyata masih butuh pegangan dari orang terdahulu, apapun dan siapapun mereka, yang oleh Rahmat Ali disebut rasul dan nabi. Kerinduan dalam puisi memang kadang bisa membodohkan manusia saat ini, kalau menelan mentah-mentah akan tampak semua begitu mudah diatasi hanya dengan kembalinya sosok pengingat itu, bukan pada konflik kejiwaan yang menggiring niat sebenarnya manusia kini pun bisa melakukannya, asal tahu betul, yang digerakkan adalah hatinya dengan puisi, sebagai langkah awal suatu tindakan, bila memang Rahmat Ali ingin ada penyadaran religiusitas di sini.


19. Ka’bah (1995): Masih puisi agamawi, kini ditekankan agamawi, tidak sekedar religiusitas karena religiusitas lebih bermakna luas sedangkan agamawi lebih terkait dengan agama yang dianut, yang semestinya juga diungkap untuk puisi Zamzam. Pengalaman batin seseorang memang modal utama untuk menulis puisi, dengan majas dan ditambahi wawasan estetika yang cukup, ramuan ini bisa mengekspresikan pengalaman batin itu, dan dituangkan dalam tulisan yang akan bisa pula dinikmati pembaca yang kalau pengalaman empirik dan kognitifnya mendekati atau banyak persamaan dengan yang dialami penulis, maka sentuhan sinyal yang meraba imajinasi itu tak akan jauh beda yang artinya sinyal puisi itu akan bisa dimiliki, dan yang bersangkutan bisa punya kesan, suatu nilai keberhasilan suatu puisi. Menyentuh, menggetarkan, meninggalkan kenangan, sebagai suatu syarat mutlak dari tingkatan karya sastra bernilai paling tinggi. Kenangan. Tidak mudah lapuk jaman. Abadi.


20. Ninabobo untuk Nabila (Usia Dua Bulan) (1997): Rahmat Ali meminta burung, bajing, musang untuk memberi pelajaran tentang bersahabat dan hidup bersama alam untuk menidurkan bayi; memperkaya cara meninabobokkan anak-anak, tidak dengan satu metode melagukan lagu nina bobok saja, membacakan majalah saja, atau mengelus-elus saja. Tapi, juga dengan bercerita yang secara sinyalistik akan didengarkan oleh anak meski secara verbal anak itu belum mengerti tapi secara kejiwaan bisa merasakan klagu cinta yang imajinatif dan membawa ke alam indah bersama makhluk-makhluk yang bersahabat dan menggembirakan yang sering dikenal anak dalam gambar atau film kartun sangatlah lucu, menyenangkan. Imajinatif.


21. Yang Tertundung (1996): Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawannya. Itu yang diprotes Rahmat Ali terhadap sikap bangsa ini yang tidak menghargai mereka. Meski tidak tersurat, hal ini tersirat dengan gamblang, bagaimana nasib para veteran pejuang yang dulu turut memerdekakan bangsa ini, terlunta-lunta tanpa penghargaan bahkan untuk hidup layak saja tidak bisa. Temanya sangat jelas, kekuatan tema memang andalan Rahmat Ali, sementara bentuk-bentuk puisinya memprosa, sekali lagi tampak di sini.


22. Balada Bersekolah yang Beratap Langit (2004): Tema umum tentang kekuasaan yang korup, serakah, semena-mena yang lupa daratan namun diingatkan semua hanya sementara dan sesudah itu pastilah semua sia-sia. Kekuatan Ali di sini menggunakan kata bahasa lisan ‘Lu’ sebagai kata ganti diri kamu. Dilakukan pengulangan, maka ia mendeskripsikan ketidakberesan apa yang dilakukan ‘Lu’ dalam menghadapi keseharian, bersikap terhadap orang lain, lingkungan, masyarakat, sistem. Sebagai kritik sosial puisi inipun membawa nilai yang sudah umum di masyarakat. Kekuatannya, Rahmat Ali sekali lagi menunjukkan kemampuan memotret rinci yang harapannya membangun imajinasi untuk mengenali apa-apa saja wujud fisik yang acap jadi gambaran utuh suatu rasa atau sikap. Dan Rahmat Ali jeli menangkap obyek penggusuran sekolah rakyat.


23. Sajak Kasur (Jakarta, 6 Nopember 1980). Yang paling nikmat dalam membaca sajak-sajak Rahmat Ali adalah ceritanya. Cerita apa yang ingin ia sampaikan, karena barangkali pembaca tidak pernah menjumpai hal semacam. Ia piawai bercerita tentang kondisi yang dijumpai, ia suka bercerita tentang hal kecil dan detail, ia suka bercerita tentang kisah-kisah sederhana dari masyarakat menengah ke bawah, walau ada kalanya bercerita tentang kalangan atas walau itu sedikit sekali. Dari situ yang tampak jelas jadi salah satu ciri khas Rahmat Ali adalah ingin menggarisbenangmerahkan suatu benda dengan orang. Dalam puisinya ini ia berkesan cerita tentang bantal dengan seorang pembajak sawah, kuli penanam bibit, seperti petani kuli sawah, tapi di sini bukan di sawah pedesaan yang luas lahannya. Aneh, sajak kisahnya tentang mirip-mirip kuli tanam tapi di kota, yang notabene ladang lahannya sempit. Bisa jadi puisi kisah tukang kebun, tapi lebih terasa puisi perjumpaan Rahmat Ali di Jakarta dengan petani-petani lahan tidur atau lahan sempit yang ternyata bisa menghidupi rakyat kecil di kota, yang punya satu sahabat setia: kasur, tempatnya mencari dunia lain. Dan kasur sangat setia untuk peran itu bagi si rakyat susah sejak kelahiran entah sampai kapan.


24. Si Bikini (Jakarta, 5 Juni 2004). Puisi memang ternyata bahasa bebas. Semula lebih terikat kaidah bentuk bersajak yang artinya terikat oleh garis-garis keteraturan dalam rima, irama, tipologi, dengan banyak persamaan antara unsur-unsur baris satu dan berikut dan sebagainya yang tampak pada syair-syair, pantun, talibun, gurindam sastra lama. Tapi para pembaharu sastra lebih mengikuti aliran hati untuk membuat dan menyampaikan kesan yang diraihnya dalam suatu peristiwa, rasa, lukisan suasana dan sebagainya. Maka kalaupun tampak menjadiseperti narasi atau bercerita pun tidaklah menjadi masalah lagi. Memang kalau puisi tak punya arti yang bisa dimaknai akan menjadi kurang berarti transformasi yang diharapkan pada diri pembaca. Maka bagaimana caranya suatu kesan itu sampai, sah-sah dan bebas-bebas saja sang penyair menciptanya. Dan ini kembali dilakonkan oleh Rahmat Ali. Ia bercerita tentang rasa melihat suatu rahasia yang bertabir di balik bikini wanita. Tetap ada rasa di situ. Itulah puisi. Ia lepaskan dari tipologi baris dan bait, ia luncurkan dalam alunan kata seperti prosa yang mengalir. Ia hentikan pada suatu sentakan. Terlalu lama menunggu rahasia itu memuaskan penasaran.


25. Tak Lagi Mencium Rahim Bumi (Jakarta,12 Juni 2004). Pastilah Rahmat Ali kembali mengamati dengan sangat cermat lingkungan tempat ia biasa berpelancong atau menelusur lekuk-lekuk perkampungan padat yang dibelah sungai-sungai yang tak lagi layak disebut sungai kecuali layak sebagai tempat sampah raksasa. Sungai, yang dulu merupakan sumber hajat air bersih bahkan menjadi sarana kehidupan makhluk air, transportasi manusia dan sebagainya kini tak layak lagi menjadi sahabat terdekatnya. Ia telah menjadi monster yang begitu menakutkan dan siap melumat siapapun individu dan komunitas di dalamnya, tak lagi menjadi anak bumi yang ramah memberi kesegaran hidup. Di sini Rahmat Ali memainkan puisinya yang lain, secara tematik ini baik untuk dikelompokkan dalam tema-tema lingkungan, tetap dengan gayanya yang khas, dengan suatu seruan menegaskan di ujung deretan kalimat puisi yang panjang, plus tanda seru!