Senin, 23 Agustus 2010

Ajun Pujang Anom: *Anak Kemarin Sore "Cinta" Bahasa Daerah*



*Anak Kemarin Sore "Cinta" Bahasa Daerah*

Oleh: Ajun Pujang Anom

Terkejut mungkin kata layak untuk menggambarkan, ketika saya diberi buku *"Piwelinge Kanca"*. Buku ini dikarang oleh anak-anak SMP yang masih kelas 7. Dan memakai Bahasa Daerah, dalam hal ini Basa Jawa. Lihat _Bro_! Anak kelas 7 bisa berbahasa Jawa. Ini suatu yang ajaib bagi saya. Karena sekarang, anak-anak lebih terbiasa memakai Bahasa Indonesia (yang _digadoin_ dengan Bahasa Asing) daripada Bahasa Daerah. Mungkin ini karena, Bahasa Daerah terlihat _udik_. Kalaupun masih menggunakan Bahasa Daerah, sudah acakadul pilihan katanya.

Di buku ini, jelas terpampang nyata, anak-anak itu nyaris tak berbuat secuil kesalahan kosakata. Kalau tertulis kata _"menapa"_, bolehlah dipandang bukan kehinaan. Karena buku ini dikarang di sebuah sekolah yang terkenal dengan "kemodernan". Tahu sendiri kan, hal-hal yang berbau modern, biasanya menjauhkan dari budaya tradisional, utamanya Bahasa Daerah.

Meski tak sempat membaca semua karya anak-anak ini, saya sangat apresiatif. Bagaimana tidak, karya-karya mereka sederhana tapi otentik tanpa _gimmick_. Hal ini terang benderang menunjukkan, bahwa mereka bukan _generasi micin_.

Apa yang disajikan adalah keseharian yang penuh balutan nilai-nilai filosofis. Alur yang dipakai juga khas remaja. Mereka tidak memaksakan diri untuk segera beranjak dewasa. Ini plusnya.

Dari tadi mungkin ada yang penasaran, dari SMP manakah mereka berasal. Ya, mereka berasal dari SMPN Model Terpadu Bojonegoro. Perlu saya sebut nama sekolahnya, karena beberapa alasan. *Pertama*, ini sebuah bentuk kesyukuran. Kok masih ada generasi muda yang mau _uri-uri_ kebudayaan? *Kedua*, mungkin bisa menjadi pemicu bagi sekolah lainnya. Agar dapat berbuat yang sama (meski ini juga mereka bukan yang pertama). Jangan malu mengekor. Kalau itu bernama kebaikan.

*Ketiga*, karya ini menguatkan sinyalemen, bahwa _*Bojonegoro adalah gudangnya Sastrawan Jawa*_. Dan generasi penerusnya terus _direproduksi_. Walau masyarakat awam Bojonegoro dan Jawa pada umumnya tak banyak tahu. Mungkin ini karena lemahnya promo, jaringan, dan lebih sukanya bergerak dalam senyap. *Keempat*, karena buku ini diperoleh dengan gratisan. Buku ini diberikan oleh Pak Yo (demikianlah biasa beliau disebut, yang saya tahu). Seorang sastrawan yang _nyambi_ jadi penerbit atau mungkin sebaliknya. Entahlah. Namun yang pasti beliau terlibat di dalamnya.

_Bojonegoro, 23 Juli 2018_

Tidak ada komentar: