Rabu, 14 Juli 2010

Kumpulan Sajak Kedaulatan Pangan


Penerbit Majas
Judul :Kumpulan Sajak Kedaulatan Pangan
Penulis : Yonathan Rahardjo
Cetakan : I, Juni 2009
Ukuran : 12,5 x 20 cm
Tebal : 100 halaman
ISBN :
Harga : Rp. 30.000,- 


Pangan merupakan bagian tak terpisahkan dalam pemenuhan kebutuhan hidup pokok manusia. Berbagai jenis makanan dan minuman diproduksi dan kita konsumsi setiap hari. Betapa dekat dan tak terpisahkannya pangan dengan kita, mengilhami saya menulis puisi-puisi yang langsung berjudul nama makanan dan minuman.

Dengan menempatkan nama ‘diri’ pangan itu pada judul sajak-sajak Yonathan, ada suatu harapan, bahwa pangan itu akan berbicara kepada kita –-apapun materi dan maknanya-- dengan segenap kedaulatannya, terurai pada isi puisi.

Kedaulatan Pangan yang berbicara atas nama batin dan pandangannya sendiri, adalah antitesa terhadap sikap tunggal manusia terhadap pangan hanya berfungsi sebagai pemuas rasa lapar dan pemasok gizi hidup belaka. Dengan pangan, kebutuhan kita dipenuhi bukan hanya yang bersifat fisik, tapi juga batin.

Yonathan mengevaluasi hal nilai batiniah dalam pangan konsepnya ini dari beberapa catatan. Nilai batiniah dalam pangan konsepnya itu antara lain dipublikasikan pada 2003 dalam Antologi Puisi Bisikan Kata Teriakan Kota oleh Dewan Kesenian Jakarta. Pecel Lele dan Siomay adalah dua judul puisi Yonathan pada antologi puisi itu.

Salah seorang yang memberikan perhatian besar pada eksistensi puisi pangan Yonathan sejak saat itu adalah penyair Binhad Nurrohmat yang terus mengingatkannya kan makna penting Sajak-sajak Kedaulatan Pangan saya dalam peta sastra Indonesia hingga lahir buku ini.

Perhatian Binhad, antara lain dipublikasikan pada 1 Mei 2004 di Fajar Banten dengan tulisannya: “....Yonathan meski secara tersamar sebenarnya menunjukkan suatu komitmen sosial juga (puisi “Bukan Serabi Bandung....)”

Terkait nilai yang tampak dari puisi Yonathan seperti “Bukan Serabi Bandung” ini, Sinar Harapan 10 Januari 2004 menulis, “..., Yonathan menggali ide baru yang sederhana, suatu gurauan serius dengan logika anak muda yang hendak bebas berkreasi. Coba simak sajaknya yang berjudul “Bukan Serabi Bandung....”

Kalaulah sastrawan Maroeli Simbolon masih hidup saat ini, ia tentu juga akan terus mengingatkan Yonathan tentang makna penting sajak-sajak pangannya. Perhatian ini antara lain ditulis oleh Maroeli Simbolon di Lampung Post 8 Agustus 2004.

Tulis Maroeli di situ, “..., Dan teman-teman seniman bertepuk tangan. Sebaliknya, ingatan saya segera tertuju kepada dua penyair muda berbakat besar, yang mengekspresikan pendapat Tardji (penyair Sutardi Calzoum Bahri) –dengan pendekatan lain. Yonathan Rahardjo sering menulis puisi dengan memasukkan jenis-jenis makanan dan minuman masyarakat kita sehari-hari, seperti ketupat, lepat, peyek, bandrek, pisang goreng.”

Contoh lain penyair Nurdin Ahmad Zakky menulis kepada Yonathan, “Tom yam enak.... Saya sampai baca berulang-ulang. Yang ini rasanya agak beda.... Memang harusnya penyair kritis dengan lingkungan. ..., Saya baca ulang lagi ternyata kaya rasa juga. Termasuk masalah tradisi bahkan sampai ke identitas. Rasa originalitas maknyus kata Bondan Winarno (pakar kuliner) mah. Tapi kalau nggak percaya baca saja yang, ubi goreng ubi rebus. Masalahnya sudah banyak sekali orang yang krisis identitas, yang malu mengakui apa yang ada di sekitarnya. Kesederhanaan ini saya pikir lebih menghujam....”

Di milis Penyair, seorang yang memakai nama Karang SS mengomentari “Bukan Serabi Bandung” demikian, “Aku suka gaya tulisannya. Meluncur rendah bagai air tak kenal halangan.”
Adapun di milis Apresiasi Sastra, penyair Misbach pada Januari 2007 bahkan menulis puisi untuk saya demikian:

CATATAN TENTANG SEMANGKUK TOM YAM
: Yonathan Rahardjo
semangkuk tom yam kau letakkan di lidahku, lalu pelan-pelan kau resapkan lezatnya ke syaraf-syaraf lapar yang terus menggelepar liar merindukan seiris kampung halaman dalam kemeruyuk cinta yang nyaris tak bisa kutahan.
semangkuk tom yam dalam hingar lapar di jalanan dengan genang kenang yang diturunkan hujan, hatiku menggigil di bibir nampan menggetarkan pertanyaan
: kapankah kau bikin sebuah perjamuan
hingga tandas tom yam-mu disyairkan
hingga tuntas syairmu dirupakan?

Kata Yunita Hapsari di milis Penyair. “Mm..., yummy! Lapar jasmani dan rohani terpenuhi.” Begitulah, dengan menikmati, memaknai, dan merasakan manfaat kehadiran puisi pangan dalam buku ini, Anda akan menambah daftar nama yang membuat  kita semua  makin bersyukur dan sekaligus mengucap terimakasih atas kehadiran pangan dan puisi pangan Yonathan Rahardjo.

Tidak ada komentar: