Minggu, 02 September 2018

Simfoni Nadia

Bagi Nadia, untaian puisi-puisinya baik bentuk maupun isinya adalah simfoni.  Bukan simfoni nama koran tahun 1970-an/1980-an. Tetapi simfoni hati, rasa, pikiran dan budi pekerti laksana karya musik panjang untuk orkestra hidupnya. Kisah semuanya dengan perenungannya itulah orkestra. Puisi-puisinya dengan penghayatannya adalah orkestra simfoni. Kebersamaan karya dengan prosesnya laksana mengkhususkan diri dalam menyajikan repertoar musik-musik orkestra setelah abad ke-18. Lama sekali sedari berabad silam. Ya, kisah masa lalu Nadia sedari lahirnya memang serasa lama sekali. Itu masa yang telah berlari. Jauh sekali. Bagaimana pun juga, Nadia dan kisah puisi-puisinya tetaplah simfoni dan orkestra simfoni. Itulah metafora jiwa dari Simfoni. Simfoni sendiri semula adalah karya musik panjang untuk orkestra, khususnya dalam bentuk sonata. Sonata adalah istilah musik yang muncul pada abad 17 dan 18 diperuntukkan untuk karya musik instrumental. Lawan dari sonata adalah kantata (musik untuk vokal). Sejak akhir abad 18, musik soneta masih terbatas pada instrumen piano dan instrumen musik solo lainnya. Umumnya, dalam dua atau lebih irama terdapat nada yang kontras baik dalam tempo maupun nada, tetapi berkesatuan erat dalam ide musik. Sonata biasanya digunakan untuk musik simfoni, kuartetgesek, dan karya-karya musik berdurasi panjang untuk instrumen solo. Sonata mantap karena tokoh-tokoh musik klasik seperti Joseph Haydn (Austria), Wolfgang Amadeus Mozart (Austria), dan Ludwig van Beethoven (Jerman). Beethoven mengembangkan sonata dari kegemarannya bermusik dengan piano dan biola. Sonata adalah pilihan musik yang biasanya didengarkan di dalam kamar (musik kamar). Sejak 1790 Beethoven mengarang berbagai musik jenis sonata diikuti banyak musisi lain. Beethoven menggabungkan jenis musik sonata semula hanya dimainkan dengan biola dan piano kemudian dikombinasi berbagai alat musik lain dalam bentuk orkestra.

Tidak ada komentar: